Bakar Bendera

Oleh :

Afandi Satya Kurniawan

Sebetulnya ndak usah bandingin dulu sahabat Nabi mulia Saw rela tewas demi bendera. Konteksnya beda bos. Meskipun kita tetap meneladani dan menjunjung tinggi mereka.

Dalam kondisi perang versi tradisional, bendera jatuh ke tangan musuh/jatuh ke tanah itu simbol kekalahan moral dan hilangnya wibawa.

Karena letak ketinggian itu, tercatat beberapa sahabat nabi mulia SAW syahid sembari tetap memegang erat bendera Khalifah semisal Ja’far, Abdullah ibn Umi Maktum, dll. Dalam perang tiga negara di Cina pd sekira abad 1-3 M, panglima Zhao Yun pun sekarat terkena lebih dari 70 bacokan pasukan Cao Cao demi mengamankan dan melarikan bendera kerajaannya. Itu wajar dan tidak bisa disamakan dengan konteks pembakaran bendera syahadatain oleh rekan-rekan BANSER.

Kita tidak tahu bentuk bendera nabi seperti apa warnanya, ukurannya, tampilannya secara persis. Kata dulur2 NU ndak ada tukang sablon di jaman nabi yg bikin bendera macam tu. Ya, sahabat dulu juga ndak ada yang pakai baju loreng macam seragam KOKAM atau BANSER. Belum ada tukang sablon. Masak sekarang jadi makruh pakai baju loreng?

Tapi yang pasti kalimat tauhid itu suci, bagi orang Islam yang waras. Jadi, seharusnya diperlakukan dengan hormat tanpa perlu mendebat apakah itu bendera milik Nabi, milik HTI, atau bagaimana sahabat wafat demi bendera. Intinya perlakuan hormat terhadap kalimat pusaka dua syahadat.

Kita tidak menjaga bendanya sebagai benda, tetapi nilainya. Itu saja. Terlepas yang pakai ISIS, HTI Al Qaeda, Taliban, MILF dll, kita musuhi pemikirannya sampai logonya. Tapi kalimat pusaka dua syahadat tetap kita hormati, meskipun dicatut sembarangan sama kelompok nyeleweng itu. Menghilangkannya pun harus penuh khidmat.

Nah, sampailah kita ke alasan almukarom Gus Yaqut. Kata beliau pembakaran itu untuk menghormati kalimat pusaka 2 syahadat. Di sini kita boleh sedikit tertawa. Sebab fakta di lapangan beda lho Gus, antara membakar kalimat pusaka karena menghormati dan membakar karena benci. Illatnya sesederhana itu masak sampeyan ndak tahu. Sampeyan masak bilang ‘benci’ sampeyan itu sebagai ‘menghormati’. Khan jancuk…

Catatan :

Di gubah seperlu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s