GUBERNUR SOERJO Ditelanjangi, diseret lebih dari 10 KM lalu di sembelih.

Jika singgah di kota Ngawi, Jawa timur, luangkan waktu sejenak berziarah ke kecamatan Kedunggalar, ada sebuah patung monumen yang akan selalu merintih pedih tak Terperi. Patung yang menyimpan lara karena Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso telah menusukan duri dalam sejarah bangsa ini, duri yang telah menewaskan pahlawan pertempuran Surabaya 1945, bernama Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, gubernur pertama RI yang menjabat di Jawa timur.

Maladi Yusuf, tokoh gerombolan Front Demokratik Rakyat (FDR) PKI, pada 10 November 1948, telah menyiksa Soerjo dengan begitu keji. Hari itu tepat diperingati sebagai hari pahlawan di Yogyakarta yang di hadiri para pejabat pemerintah, salah satunya adalah Gubernur Soerjo.

Setelah menghadiri peringatan hari pahlawan pada tanggal 10 November, Gubernur Soerjo pamit undur diri untuk pergi ke Madiun . Sebelum sampai di Madiun , mobil beliau di cegat anggota Bataliyon FDR, Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Maladi Yusuf ditengah hutan peleng, Kedunggalar, Ngawi. Setelah diikat tangan nya dengan tali, mobil Gubernur Soerjo dibakar.

Dalam saat yang sama, tidak hanya Gubernur Soerjo yang ikut jadi korban, dua perwira polisi yaitu Kombes pol M. Doerjat dan Kompol Soeroko turut jadi korban, mobil kedua perwira polisi itu pun juga di bakar.

Ketiga mereka kemudian ditelanjangi dan dicaci maki, ketiga nya diikat, lalu diseret hingga lebih dari 5 km dengan menggunakan kuda.

Dua perwira polisi tersebut ternyata lebih dahulu meninggal ketika diseret, kemudian disembelih. Sementara Gubernur Soerjo tidak kunjung meninggal, ketika disiksa dan di sembelih. Ada anggota FDR PKI yang berspekulasi, Gubernur Soerjo punya kesaktian, sehingga susah di bunuh, maka salah satu anggota FDR mengusulkan agar Gubernur Soerjo diseret lagi hingga lebih dari 10 km dan harus menyeberangi melewati tiga sungai, agar betul-betul bisa disembelih.

Mereka terus menyeret Gubernur Soerjo melewati aliran sungai Bengawan Solo, sungai Sonde, dan kali Kakak. Setelah melewati tiga sungai tersebut, Gubernur Soerjo disiksa dan baru kemudian beliau disembelih.

Empat hari kemudian, jenazah Gubernur Soerjo dan dua perwira polisi baru ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan. Jenazah itu kemudian dimakamkan di Sasono Mulyo yang terletak di Sawahan, kabupaten Magetan.

Pemerintah lalu menggelari Gubernur Soerjo sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Hal itu tertuang dalam keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294 tgl 17 November 1964.

Di desa Bangunrejo Lor Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi, akhirnya di bangun sebuah monumen tempat gugur sekaligus di kuburkan nya Gubernur Jawa Timur pertama, bersama dengan dua orang pengawal nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s