Begini Cara Kiai Ahmad Dahlan Lawan Kristenisasi

Menurut Alwi Shihab, salah satu alasan penting kelahiran Muhammadiyah adalah untuk membendung perkembangan kristenisasi yang membonceng pada misi kaum penjajah. Hal itu tertuang dalam bukunya, Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen Di Indonesia yang diterbitkan ulang oleh Suara Muhammadiyah. Lalu ‘jurus’ apa yang digunakan pendiri Muhammadiyah K. H. Ahmad Dahlan melawan kristenisasi tersebut?

Suatu waktu, seorang pastur berkelas internasional yang mempunyai daerah kerja yang luas di seluruh Asia, Pastur Dr Zwijmer direncanakan berkunjung ke beberapa kota di Hindia Belanda, termasuk Yogyakarta. Kedatangan Pastur itu ke Yogyakarta didengar oleh KH Ahmad Dahlan, termasuk sepak terjangnya dalam menghina Islam.

Pada saat kedatangannya di Yogyakarta, Kiai Dahlan menyambutnya dengan mengadakan pengajian umum di Ngampilan. Dalam pengajian itu, Pastur Dr Zwijmer diundang untuk mendengarkan serta diberi kesempatan untuk menerangkan tentang agamanya, dan diminta pula kesediaannya untuk menjawab pertanyaan dari hadirin. Akan tetapi dia tidak datang.

Sebagai pembicara dalam pengajian itu, KH Ahmad Dahlan menerangkan mengenai agama Islam, yang oleh beliau diibaratkan sebagai sekolahan, yaitu bertingkat-tingkat dari kelas satu sampai kelas yang tertinggi. Begitu pula agama Islam, pada zaman Nabi Adam diibaratkan baru kelas satu. Kemudian berturut-turut pada Nabi-nabi berikutnya, naik satu kelas. Dan pada zaman sekarang ini kita sudah sampai pada kelas yang tertinggi, yakni zaman Nabi Muhammad saw.

“Oleh sebab itu hendaklah kita bersatu untuk mempelajari agama itu dengan mempergunakan akal. Janganlah agama itu hanya dibicarakan di Gereja saja (agama Nasrani), di masjidpun tidak ada halangannya,” pungkas Kiai Dahlan.

Sesudah mendapat sambutan seperti itu dari KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, selanjutnya perjalanan Pastur Zwijmer tidak terdengar lagi. Padahal sebelumnya perjalanannya selalu diberitakan di surat kabar-surat kabar.

Peristiwa penyambutan Pastur Zwijmer di Yogyakarta itu, mendapat perhatian Ki Hadjar Dewantara. Dalam tulisannya yang dimuat dalam surat kabar “Darmo Kondo” yang terbit di Solo. Ki Hadjar antara lain mengatakan bahwa Pastur Zwijmer tidak mampu menghadapi KH Ahmad Dahlan.

Menantang Keluar dari Agama Masing-Masing

Dalam kisah lain, Kiai Dahlan juga pernah berdiskusi dengan Domine Bakker. Pertemuan dan diskusi itu diadakan di Jetis, salah satu Kecamatan di Yogyakarta, saat ini. Pertemuan dan diskusi itu berlangsung beberapa kali. Namun dalam diskusi itu Dominne selalu menyampaikan tanggapan berbelit-belit serta tidak mau mengakui kekalahannya. Sehingga pada akhirnya, KH Ahmad Dahlan mengajukan tantangan.

“Marilah kita sama-sama keluar dari agama kita masing-masing. Kemudian kita bersama-sama pula mencari mana agama yang benar. Kalau ternyata kemudian agama Protestan yang benar, saya sanggup masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila agama Islam yang benar, Domine pun harus mau masuk agama Islam.” Ujar Kiai Dahlan.

Rupanya Domine tidak berani menerima tantangan KH Ahmad Dahlan. Dan tidak lama kemudian diapun mohon diri untuk pulang kembali ke negeri Belanda. Dari pertemuan dan diskusi yang diadakan beberapa kali itu, ada dua orang dari Klaten pengikut Domine, akhirnya masuk Islam setelah mendengar pembicaraan-pembicaraan yang diadakan selama pertemuan dan diskusi itu.

Sumber : suaramuhammadiyah.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s