Puasa hari pertama : Mulailah dengan JUJUR untuk merasakan rahasia diri

Rahasia Allah itu ada pada manusia. Sementara manusia adalah rahasia Allah. Bagaimana mungkin kita dapat menyadari Hakikat bahkan Rahasia Allah jika kita sendiri tidak pernah menyadari Rahasia kita. Bagaimana mulai melihat Rahasia diri? Mulailah dengan JUJUR melihat diri. Muhasabah diri (Introspeksi/Ngaca) dulu. Ngaca itu untuk menatap diri, menyaksikan diri, memahami dan menelanjangi diri. Jujur itu tak butuh bekal dan modal. Tak perlu tirakat tak perlu puasa.

Jujur itu tentu bukan teriak-teriak untuk mengakui bahwa aku bodoh. Bahwa aku lemah. Bahwa aku sombong. Kalau kita jujur bahwa kita bodoh…kenapa tak mau belajar? Kalau kita bilang ke semua orang bahwa kita bodoh, tapi tak mau belajar, ya namanya bohong. Kalau mulut kita bilang pasrah, tawakkal kepada Allah, tapi hati kita masih gemrungsung dan takut melarat misalnya, ya bohong namanya. Itu bukan jujur.

Rahasia diri, hanya Allah yang Tahu. Tapi Rahasia diri, dapat kita rasakan RasaNya. Tengok saja di hati terdalam diri kita. Mau ke masjid, mau apa? Masih bukan untuk Allah? Ya bohong namanya. Meski sekampung bilang kita soleh, kita alim, kalau hati kita bukan Allah, ya bohong namanya. Lalu, bagaimana bisa merasakan RahasiaNya? RahasiaNya, bersembunyi dalam Diri. Sementara diri kita, ditutupi, dibohongi oleh pikiran dan ego kita sendiri.

Jujurlah pada diri, itu artinya Jujurlah kepada Allah. Tapi bukan merengek kita begini kita begitu. Jujur itu bukan mengakui keinginan, tapi jujur adalah sadar betapa SegalaNya Allah Yang Menentukan. Jujur adalah, insyaf betapa Allah semata Yang Mengatur SegalaNya. Jadi, masih mau mengatur-atur jalan hidup dengan cara tidak jujur? Ooh,, jadi rupanya amal perbuatan kamu itu supaya kamu bisa ini itu? Ooh, jadi kamu mengamalkan ini itu supaya bisa ini itu? Itu namanya tidak mau jujur. Itu namanya membiarkan diri mengatur Allah, bahkan menjadikan Allah sebagai Jongos.

Ya Allah…kita Istighfar saja tidak jujur. Kita istighfar itu ingin diampuni, kalau diampuni nanti disayang Allah, kalau disayang Allah nanti kita kaya. JUJUR itu, kita menerima dengan bahagia ketika Allah Yang Menentukan Jalan kita. Kita lihat misalnya, ketika orang yang kita sukai berbicara, meski salah, kita kok seneng ya?!?! Tapi kalau ada orang berbicara benar tapi karena orang itu kita benci, kita kok gak suka ya…kenapa??? Karena kita nggak jujur menerima kenyataan.

Memang mau pintar? Kalau pintar mau apa? Ya biar bisa ibadah. Lha memang Allah butuh orang pintar ya untuk menjadi HambaNya? Tidak sama sekali. Allah tidak butuh apapun dan siapa pun. Mau sepintar apa sih? Tak berpengaruh!!! Kitalah yang butuh Allah. Maka bersedialah menerima Allah.

Mau sakti? Allah tak butuh?!
Mau Kaya? Allah tak butuh?!
Mau pinter? Allah tak butuh?!
Allah Ghoniyun ‘anil ‘alamiin….
Allah Maha Kaya. Allah tidak butuh apapun dari kita.

Akhirnya,, diri kita mesti JUJUR bertanya, SEBENARNYA KITA SEDANG MENUJU KEPADA ALLAH ATAU SEDANG MENINGGALKAN ALLAH? Dari situ kita bisa jujur berkata untuk diri, sudahkah kita merasakanNya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s