AJARAN & KETELADANAN KH AHMAD DAHLAN DAN KH AZHAR BASYIR TENTANG TOLERANSI DAN SIKAP BARA’AH (BERLEPAS DIRI DARI KEKUFURAN) DALAM BERAGAMA

Oleh :

KH Fathurrahman Kamal

Ketua Majelis Tabligh
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah

AJARAN & KETELADANAN KH AHMAD DAHLAN DAN KH AZHAR BASYIR TENTANG TOLERANSI DAN SIKAP BARA’AH (BERLEPAS DIRI DARI KEKUFURAN) DALAM BERAGAMA

Baik secara konsep maupun aplikasi dalam sejarah, Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Al-Quran mengajarkan: “Tidak ada paksaan untuk ( memasuki ) agama ( Islam ); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah: 256). “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah , karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS al-An‟am: 108).


Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Terhadap hak-hak non-Muslim dzimmi, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menzalimi non-Muslim yang terikat perjanjian dengan Islam, menghinakannya, membebaninya di luar batas kemampuannya, atau mengambil hartanya tanpa kerelaannya, maka akulah lawannya pada hari kiamat kelak.” ( HR Abu Dawud ). “Barang siapa membunuh sesorang dari ahli dzimmah, ia takkan mendapatkan wangi surga, padahal wanginya bisa didapatkan dari jarak perjalanan selama 70 tahun.” ( HR Nasa‟i ).
Sikap toleran dan ketegasan dalam prinsip-prinsip Islam pernah ditunjukkan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah yang kini memasuki usianya ke-104 tahun. Afiliasi dan keberpihakannya kepada Islam sangatlah jelas. Dalam konteks hubungan antaragama dan umat beragama, beliau bukanlah pengusung paham pluralisme ataupun sekularisme. Bahkan, menurut Alwi Shihab, Muhammadiyah didirikan justru sebagai respons terhadap praktik keagamaan yang menyimpang, gerakan Kristenisasi, dan gerakan Freemason yang mengusung slogan kebebasan dengan jargonnya: liberty, egality, dan fraternity. ( Alwi Shihab: 1998 ).
Tidak dinafikan, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang berpikiran maju, terbuka, dan toleran. Hal tersebut membuat Dokter Soetomo, seorang elite priyayi Jawa, dan salah seorang pemimpin Budi Utomo kepincut dengan Muhammadiyah dan bersedia menjadi advisor Hooft Bestuur Muhammadiyah masa itu. Beliau juga sering berdialog dengan pemuka agama Kristen. Di antaranya, Pastur van Lith, Pastur van Driesse, dan Domine Bekker. Keterbukaan beliau memang luar biasa, namun perlu dicatat secara adil sikap tegas KH Ahmad Dahlan dalam berakidah.
Dalam dialognya bersama KH Ahmad Dahlan, Domine Bekker selalu berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya dan akhirnya pendiri Muhammadiyah ini mengajukan tantangan kepada pemuka Kristen untuk keluar dari agama masing-masing, lalu mencari dan menyelidiki agama masing-masing. Demikian pula dialog terbuka Kyai Dahlan dengan seorang pemuka gereja, Dr Lamberton yang akhirnya berujar, “Maaf, saya tetap berpegang kepada agama yang dipeluk oleh nenek moyang saya karena ini menjadi kewajiban saya. ( Yusron Asrofi : Kyai Ahmad Dahlan: Pemikiran dan Kepemimpinannya, 2005).
Pada 1969, tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Azhar Basyir MA menyampaikan kuliah tentang Muhammadiyah di Akademi Kateketik Katolik Yogyakarta. Secara tulus, Kiai Azhar Basyir menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan merasa mendapat kehormatan dengan undangan dari Institusi Katolik tersebut. Ketika itu, Kiai Azhar Basyir menyampaikan ceramah dengan judul “Mengapa Muhammadijah berjuang menegakkan tauhid yang murni?” Kata Sang Kiai, “Karena Muhammadijah yakin benar-benar dan ini adalah keyakinan seluruh umat Islam bahwa tauhid yang murni adalah ajaran Allah sendiri. Segala ajaran jang bertendensi menanamkan kepercayaan „Tuhan berbilang‟ bertentangan dengan ajaran Allah. Dan oleh karena keyakinan „Tuhan berbilang‟ itu menyinggung keesaan Tuhan jang mutlak, maka keyakinan „Tuhan berbilang‟ itu benar-benar dimurkai Allah. Tauhid murni mengajarkan keesaan Tuhan secara mutlak. Kepercayaan bahwa sesuatu atau seseorang selain Allah mempunjai sifat ketuhanan disebut syirik. Syirik adalah perbuatan dosa terbesar jang tidak diampuni Allah.”

Sikap toleran, keterbukaan, dan keteguhan iman (wala’ dan bara’) KH Ahmad Dahlan dan KH Ahmad Azhar Basyir terbaca di atas seharusnya menjadi referensi keteladanan yang autentik dalam merumuskan sikap toleransi antarumat beragama di Indonesia, khususnya pimpinan dan warga Persyarikatan Muhammadiyah. Segala hal yang potensial meruntuhkan bangunan akidah dan iman seorang Muslim mesti disikapi secara tegas, adil, dan beradab. Ketegasan sikap secara beradab dalam menjaga akidah umat Islam tidak perlu dirisaukan, apalagi disalahpahami sebagai sikap eksklusif yang akan melahirkan radikalisme keagamaan.
Wallahu A’lam Bish-shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s