Pengaruh Elang Polandia pada Garuda Pancasila

Pengaruh Elang Polandia pada Garuda Pancasila

Mendekati tanggal 17 Agustus ada baiknya kita bicara tentang nasionalisme. Salah satu bentuk nasionalisme yang sekarang mau saya angkat adalah tentang lambang negara Indonesia, burung garuda. Kalau diperhatikan, ada kemiripan yang cukup besar antara lambang negara dan juga bendera Polandia dengan lambang negara Indonesia. Apakah perbedaan itu terjadi secara kebetulan dan tidak ada sangkut pautnya, atau memang ada pengaruhnya?

Berawal dari persiapan saya ketika mau berkunjung ke Polandia dan mempersiapkan visa di kedutaan Polandia di Indonesia. Ada kemiripan sedemikian rupa antara lambang negara kedua negara tersebut. Dan saya bertanya-tanya, bagaimana hubungannya? selama ini dalam rangka membangun identitas nasional semacam itu, kita sepertinya hanya diperlihatkan bahwa baik lambang negara maupun bendera Indonesia tidak ada hubungan sama sekali dengan dunia luar. Kalau kemudian ada kesamaan, berarti memang sudah takdir dan kebetulan yang sangat indah bahwa kesamaan itu ada begitu saja.

Kalau kita bayangkan bahwa Eropa dan Asia sedemikian jauh dalam banyak hal, termasuk budaya dan latar belakang dan juga jarak, wajar saja bila berpikir bahwa lambang negara dan juga bendera kita tidak ada hubungannya dengan Eropa. Apalagi Eropa adalah negara-negara penjajah dan sangat wajar bila kita ingin menghilangkan ciri keeropaan kita. Termasuk misalnya tata bangunan dan juga tata kotanya, lengkap dengan sistem transportasinya. Pokoknya semua yang berbau eropa harus dihapuskan. Dengan demikian, saya sendiri membayangkan bahwa sebagai bentuk nasionalisme simbol-simbol yang berbau eropa dibuang.

Tapi kemudian saya berfikir lain. Bukankah sebentuk nasionalisme kita juga sebenarnya terbangun dari Eropa? Dari negara penjajah? Loh kok bisa? saya menangkapnya dari pemikiran sosialis di Belanda. Mereka kemudian mendesakkan adanya sebuah politik etis, politik balas budi yang akhirnya memberi kesempatan pendidikan kepada kaum pribumi di negara jajahan. Kesempatan pendidikan itu, termasuk juga pendidikan ke negeri Belanda. Tokoh-tokoh nasionalis kita banyak dididik di sana seperti Hatta, Sjahrir, Tan Malaka. Kaum sosialis Belanda (dan di sinilah saya menyadari bahwa tidak semua orang Belanda adalah penjajah, banyak yang memperjuangkan kemerdekaan Hindia Belanda yang kemudian bernama Indonesia) mengangkat isu persamaan hak dan martabat manusia yang sama, termasuk persamaan hak antara kulit coklat dengan kulit putih.

Karena pendidikan di Eropa inilah kemudian memunculkan adanya pengaruh terhadap lambang-lambang dan simbol nasional bangsa Indonesia. Termasuk di dalamnya bendera merah putih dan juga garuda pancasila. Hanya saja, sekali lagi, pengaruh-pengaruh asing dalam orasi-orasi nasional di Indonesia jelas dihilangkan atau diminimalisir. Namun demikian, pengaruh asing itu tidak dapat begitu saja diabaikan. Ambillah contoh misalnya, tata hukum kita dengan tata hukum kolonial Belanda dan yang lebih kelihatan misalnya dalam bahasa-bahasa orasi para pemimpin nasional kita. Meskipun bahasa Indonesia sudah diangkat sebagai bahasa persatuan nasional, bahkan Soekarnopun dalam pidatonya sering menggunakan bahasa-bahasa asing.

Salah satu bentuk bagaimana upaya membumikan lambang-lambang negara Indonesia adalah dengan mencari filosofi indonesia pada lambang-lambangnya. Itulah sebabnya misalnya warna merah putih pada bendera Indonesia dihubungkan dengan sejarah umbul-umbul Majapahit, Sisingamangaraja, sampai Aceh. Padahal nasionalisme Indonesia berbeda dengan kebesaran Sriwijaya dan juga Majapahit. Juga ketika Sisimangaraja berperang melawan koloniasme Belanda belum berfikir nasionalisme Indonesia. Bendera dan warna merah putih lebih muncul sebagai bentuk bendera kepartaian yang tentu saja ini hanya ada dalam konsep pemikiran negara demokrasi dan waktu itu terbentuk di Belanda oleh mahasiswa-mahasiswa Hindia Belanda yang belajar di sana.

Kemudian, terdorong oleh rasa penasaran semacam itu saya mencoba mencari, desain awal garuda Pancasila ini oleh desainernya yang tidak banyak dikenal oleh orang Indonesia sekarang ini. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa Sultan Hamid II-lah yang menggambarkan lambang negara Indonesia untuk pertama kali. Baca juga https://jbahonar.wordpress.com/2015/08/13/lambang-ri-mirip-kerajaan-samudera-pasai

Jika kita mengacu pada keterangan Max Yusuf Al Kadrie, mantan sekretaris pribadi Sultan Hamid II menyatakan: “… Sultan Hamid II sama sekali tidak mengacu pada elang jawa ketika merancang, Ia menggunakan elang Rajawali yang berukuran jauh lebih besar seperti kebanyakan lambang yang dibuat negara lain dengan tujuan agar bangsa Indonesia bisa tumbuh sama besar dan sama kuat dengan negara-negara lain di dunia.” (Nanang Hidayat, Mencari Telur Garuda, Nalar, Jakarta, 2008, halaman 37)

Jadi, memang pelukisnya sepertinya sadar benar bahwa lambang burung itu sudah menjadi lambang yang umum di banyak negara. Dengan demikian, kitapun di sini harus jujur mengakui bahwa lambang negara kita adalah sebentuk modifikasi dari lambang negara lain. Perhatikan gambar-gambar berikut bahkan sampai nengok-nengoknyapun sama.

Burung adalah lambang yang sangat umum di banyak negara... gambar dari untukpendidikan.wordpress.com

Lantas bagaimana hubungannya dengan Polandia? marilah kita lihat pengakuan Sultan Hamid II tentang hal ini:

Sultan Hamid II dalam transkripnya mengtatakan, “..disamping itu saja djuga mempergunakan bahan-bahan lambang negara lain jang djuga figurnja burung elang/jang mendekati burung Garuda dan saja tertarik dengan gambar-gambar lambang negara dan militer negara Polandia, karena latar belakang pendidikan saja ketika di K.M.A Breda djuga mempeladjari makna-lambang-lambang militer berbagai negara dan lambang-lambang negara di Eropah dan negara-negara Arab serta Amerika djuga di kawasan Asia jang memakai figur burung.” (Transkrip Sultan Hamid II kepada Solichim Salam, 15 April 1967.)

Bahwa kemudian filosofi elang dan rajawali menghilang kemudian digantikan dengan mitos burung garuda yang berakar dari mitologi Hindu, saya pikir ini tidak boleh menghilangkan akar kesejarahannya dan juga kita mesti berani jujur pada sejarah. Dalam perjalanan berikutnya, memang garuda Pancasila lebih dominan sebagai lambang negara Indonesia. Namun, garuda sendiri bukanlah sosok yang benar-benar ada. Hampir sama seperti naga. Keduanya adalah mitos meskipun dikenal di banyak tempat dengan nama yang berbeda-beda.

Meskipun kemudian kita tahu bahwa Garuda kita punya akar dalam sejarah pemikiran Eropa, namun tidak serta merta ini adalah penjiplakan. Beberapa orang Malaysia seringkali mengatakan bahwa ini adalah sebentuk penjiplakan. Pasalnya, banyak negara yang menggunakan simbol burung sebagai lambang negaranya yang merupakan sebentuk modifikasi satu dengan yang lain. Kenapa tidak seperti singapura yang mengambil simbol singa atau tidak ambil saja simbol macan biar Indonesia menjadi macan Asia? Sebenarnya, simbol singa pun sesungguhnya bentuk modifikasi juga dari lambang hanya berbeda bentuk saja. Tapi begini, saya membayangkan memang dengan Burung Garuda lebih bisa menampilkan simbol-simbol heroisme dan nasionalisme Bangsa Indonesia yang kemudian bisa dengan jumlah-jumlah bulunya menunjukkan simbol 17-08-45. Bayangkan kalau gambarnya macan, gimana mau membuat simbol-simbol dengan bulunya? hehehee

Sayang sekali bahwa dalam hal sejarah kita banyak tidak tahu dan dibuat tidak tahu. Tidak banyak yang tahu bahwa sang pencipta lambang burung garuda justru berwasiat agar tidak memasang gambarnya sebagai lambang negara itu di istananya sebagai bentuk protes kepada Pemerintah yang mengaitkannya pada pemberontakan PRRI. Jadi memang, sepertinya sampai sekarang istana Kadriyah yang semestinya berbangga bahwa burung Garuda merupakan bentuk rancangan kakek moyang mereka justru tidak memasangnya. Sayang sekali bahwa Indonesia dalam banyak hal sangat paradoks, terutama dari sisi sejarah.

Kegagahan lambang Garuda Pancasila, tak segagah penciptanya yang tersingkirkan. gambar dari catatansejati.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s