Hindari 8 Kesalahan Istri Saat Berjima’

Berapakah usia pernikahan kita saat ini? Bagaimanakah hubungan rumah tangga kita? Apakah kita dapat melayani kebutuhan batin suami kita dengan baik? Atau justru selama memenuhi kebutuhan itu kita sering melakukan kesalahan yang membuat suami tidak merasa terpuaskan sehingga kenikmatan yang Allah berikan terasa hambar? Apapun jawaban dari pertanyaan tersebut hanya kita dan suami yang mampu menjawabnya.

Jika terdapat masalah yang memang harus diperbaiki, perbaikilah sejak dini agar tidak menimbulkan prahara hanya karena kita tidak mampu menyenangkan dan memenuhi hak batin suami. Bahkan jika selama ini suami telah merasa bahagia dengan apa yang diterimanya ketika berjima’, kita tentu tidak boleh merasa puas. Ada banyak PR yang harus kita lakukan untuk memberikan servis maksimal pada suami demi menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai yang kita impikan.

Selama kita memenuhi kebutuhan syahwat suami, seringkali tanpa sadar kita melakukan kesalahan yang dianggap sepele tetapi dapat berakibat cukup fatal jika dibiarkan berlarut-larut. Ketidakpuasan suami atas jima’ yang dilakukan dapat mempengaruhi psikologisnya.

Syahwat yang tidak terpuaskan akan mengakibatkan munculnya peluang bagi syetan meniupkan hasrat berbuat maksiat. Na’udzubillah min dzalik. Tentunya kita tidak menginginkan hal itu terjadi bukan? Meskipun suami kita adalah lelaki dan hamba yang ta’at pada Allah, sebagai istri kita harus menjadi salah satu tameng yang mencegahnya dari dosa dan maksiat.

Nah, agar hal tersebut tidak terjadi dalam rumah tangga kita, sangat penting untuk mengetahui kesalahan-kesalahan apa saja yang sering kita lakukan dalam melakukan jima’. Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan itu kita akan mengetahui bagaimana cara memperbaiki pola jima’ yang kita lakukan dengan suami.

1.Istri bersikap seolah-olah tidak senang melakukan jima’

Umumnya seorang istri akan bahagia dan senang melakukan hubungan suami istri dengan suaminya. Akan tetapi ternyata ada pula istri yang tidak senang melakukannya. Meski tidak dilontarkan secara langsung, sikap dan komentar kecil istri dapat menunjukkan apakah jima’ yang dilakukan dilandasi keikhlasan atau keterpaksaan.

Sikap yang harus dihindari istri yang mengindikasikan ketidaksenangan ketika berhubungan suami istri antara lain: memberika  komentar yang meremehkan jima’, menampakkan ketidakmauan melakukan jima’, memberi kritik, bersikap seolah-olah jima’ tidak penting dan melakukannya hanya untuk menyenangkan suaminya saja.

2.Istri tidak pernah meminta

Ada seorang suami yang pernah berkomentar “istri saya tidak pernah meminta melakukan jima’. selalu saya yang meminta dan saya tidak suka”. Setinggi apapun level pemalu yang ada dalam diri kita, terkadang suami ingin agar istrinyalah yang meminta terlebih dahulu. Hal itu karena suami ingin sesekali istri yang merasa membutuhkan kasih sayang dari suaminya.

3.Merasa aneh dan tidak suka dengan tubuh pasangannya

Adakah yang merasa tidak suka dengan penampilan fisik suami? Merasa suami tidak tampan, tidak tinggi atau tidak gagah perkasa? Sah-sah saja jika ada bagian tubuh suami yang terasa aneh dalam pandangan kita. Akan tetapi ketika sedang melakukan jima’, jangan pernah berkomentar tidak baik dan berpandangan negatif pada fisik suami.

Sikap ini akan membuat suami merasa bahwa kita tidak suka melakukan jima’ dengannya, atau bahkan suami akan merasa kita tidak mencintainya.

4.Merasa tidak bertanggungjawab atas tercapainya titik orgasme

Seorang suami yang mencintai istrinya (insyaAllah suami kita adalah lelaki yang mencintai kita) akan berusaha membahagiakan istrinya, termasuk ketika melakukan jima’. Pada situasi tersebut salah satu hal penting adalah tercapainya titik orgasme. Sebagian suami menjadikan hal tersebut sebagai indikator keberhasilan dan kegagalan dalam jima’. Jika istri tidak mendapatkan kepuasan atas tercapainya titik orgasme maka suami akan merasa kenikmatannya tidaklah sempurna.

Oleh karena itu seorang istri sebaiknya ikut mengupayakan tercapainya kepuasan tersebut agar tujuan dari pemenuhan kebutuhan batin dapat tercapai dan tidak melukai salah satu pihak.

5.Bersikap seperti polisi yang mengatur lalu lintas jima’

Sebagai wanita, umumnya seorang istri memiliki sifat pemalu. Namun ketika memenuhi kewajibannya melayani suami, istri tetap harus bersikap aktif dan sedikit agresif. Meski demikian hindarilah melakukan hal-hal yag terkesan mengatur suami. Meski pada dasarnya setiap pasangan, baik suami atau istri menginginkan jima’, tetapi jangan pernah mengendalikan aktivitas jima’ suami. Hal itu dikarenakan ia pun berhak untuk mengatur jalannya permainan dan ia berhak mendapat kepuasan sesuai yang diinginkannya dari sang istri.

6.Tidak bereaksi balik terhadap suaminya

Ketika kita melakukan jima’ dengan suami, maka kita harus siap untuk bertindak aktif dan tidak diam saja tanpa respon. Tidak adanya respon balik dari istri baik berupa respon perasaan atau reaksi fisik akan membuat suami merasa gagal. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan menyebabkan suami kehilangan perasaan dan keinginannya untuk melakukan jima’ dengan istrinya.

7.Terlalu banyak bicara

Istri yang terlalu banyak bicara ketika melakukan jima’ akan memberi dampak negatif bagi jiwa suami. Pada umumnya suami menginginkan konsentrasi dan ketenangan dalam situasi ini. Selain itu, suami biasanya akan berubah menjadi sensitif di atas tempat tidur. Istri yang cerewet dalam berjima’ akan menyebabkan gejolak suami menjadi turun. Bukannya mendapatkan kesenangan, suami justru akan mendapatkan kesedihan. Beberapa ungkapan yang sering diucapkan istri dan membuatnya menjadi banyak bicara contohnya adalah aku tidak siap, bukan begini, belum saatnya dan masih banyak lagi.

8.Berpenampilan tidak menarik dan memakai pakaian yang tidak pantas

Penampilan kita ketika melakukan jima’ dengan suami sangat menentukan proses dan akhir dari pelaksanaan ibadah tersebut. Suami akan merasa risih ketika menemukan istrinya memakai pakaian yang sudah usang, tidak bersih dan mungkin tampak tidak menggairahkan ketika akan berjima’. Tidak hanya itu, keadaan kita yang kurang menarik, berantakan dan tidak wangi ikut mempengaruhi niat suami untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Maka penting bagi istri untuk memperhatikan penampilan diri dan pakaian yang dikenakannya saat akan berjima’.

Setelah tali pernikahan mengikat dan mempersatukan kita dengan pasangan, pada saat itu Allah telah menghalalkan kenikmatan jima’ antara suami dan istri. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa salah satu faktor terciptanya keharmonisan rumah tangga adalah pemenuhan kebutuhan syahwat antar pasangan.

Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk selalu mengevaluasi diri, menghindari dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan dalam berjima’. Semoga dengan paparan di atas kualitas jima’ kita akan makin meningkat sehingga ikut meningkatkan kualitas keharmonisan rumah tangga kita. Aamiin

(ummi-online)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s