Tionghoa Muslim di Sumenep, Madura

(Catatan-catatan studi kasus Tionghoa Muslim di Pasongsongan dan Sekitarnya)
Oleh Gayatri WM*

Sebagai salah satu keturunan Tionghoa Muslim dari Pasongsongan, dan berbekalkan sarjana jurusan sejarah, yang mempunyai banyak waktu luang sebagai ibu rumah tangga, dan kerinduan kepada almarhum kakek saya K. Abu Muthar, saya tiba-tiba memutuskan berselancar mencaritahu kembali sejarah leluhur saya dari berbagai versi. Saya juga sudah lama diserahi tugas mencatat kembali daftar silsilah keluarga, tetapi karena saya tidak telaten sama sekali sudah tertunda bertahun-tahun pengerjaannya. Untuk berbagai catatan yang langsung saya salin, hanya sedikit sekali yang saya sunting untuk menjadi baik dari segi EYD dan sebagainya. Setelah menemukan setidaknya tujuh versi baik yang bersumber dari luar maupun dalam, dan satu sama lain antara sejarah lisan satu kerabat dengan kerabat yang lain tampak simpangsiur, maka saya kemudian mencoba melakukan cross-check dengan daftar sillsilah yang saya pegang. Daftar silsilah ini belum tentu dipegang dan pernah dilihat oleh semua orang. Mungkin ada daftar silsilah lain yang saya tidak tahu. Tetapi, cross-check saya untuk sementara waktu adalah berdasarkan daftar tersebut.

Catatan: blog ini sangat panjang, karena menyalin berbagai versi.

Versi Akhmad Rofli Dimyati, M.A

Sapudi Kepulauan Islam Pertama di Sumenep

Tersebutlah sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumenep yang bernama Sapudi. Konon, kata ini, “Sapudi”, berasal dari kata-kata Sepuh Dhewe (bahasa Jawa) yang bermakna “yang paling tua sendiri”. Menurut kisah tutur madura, dikatakan tua sendiri karena dianggap Islam masuk ke tempat ini paling awal dibandingkan di tempat-tempat lain di Madura pada umumnya dan di Sumenep pada khususnya.

Perlu diketahui, bahwa Madura bagian Timur ini semarak lebih awal dari bagian Baratnya berkat kemajuan-kemajuan yang dicapai Aria Wiraraja setelah menjadi Adipati di sana pada abad ke 13. Sementara transportasi waktu itu sangat bergantung kepada transportasi laut. Oleh karena itu, minat para pedagang akan jatuh kepada lokasi-lokasi ramai di mana hal itu lebih memungkinkan mereka untuk berniaga. Jalur pesisir utara jawa adalah pilihan yang sudah biasa dilalui armada pedagang internasional hingga ke perairan Lombok. Tak terkecuali pedagang Arab yang juga sampai ke Madura bagian Timur ini. Sudah menjadi lumrah para penyeru dakwah menyertai perjalanan para peniaga dari Arab ini.
Berdasarkan survei penulis terhadap beberapa literatur, tercatatlah seorang penyeru dakwah bernama Sayyid Ali Murtadha yang menuju arah Timur dan mendarat di sebuah pulau yang dikenal sekarang dengan Sepudi. Di sanalah dia menyiarkan agama baru, Islam. Dialah Sunan Lembayung Fadal. Orang menyebutnya dengan Rato Pandita. Kuburannya saat ini disebut Asta Nyamplong.

Sunan Lembayung Fadal mempunyai empat keturunan. Pertama, bernama Haji Usman yang dikenal dengan Sunan Manyuram Mandalika. Ia menyiarkan Islam di Lombok dan mempunyai putra bernama Raden Bindara Dwiryapada yang sampai sekarang dikenal dengan nama Sunan Paddusan, menyebarkan Islam di Sumenep. Sunan Paddusan menjadi menantu Jokotole. Jokotole masuk Islam dari tangannya.

Kedua, Usman Haji yang dikenal dengan Sunan Ngudung (Sunan Andung). Beliau mempunyai dua anak, putra dan putri, yaitu: Syd. Jakfar shodik (Sunan Kudus) dan Siti Sujinah (istri Sunan Muria).
Ketiga, Tumenggung Pulangjiwa atau juga dikenal dengan Panembahan Blingi. Ia kemudian dikarunia dua anak, yaitu Adipoday dan Adirasa. Keempat, Nyai Ageng Tanda. Ia kemudian menjadi istri Khalifah Husain atau Sunan Kertayasa di Sampang.

Dikabarkan, Sunan Lembyung Fadal sezaman dengan Panembahan Joharsari yang berkuasa antara tahun 1319-1331 M di Sumenep. Dengan demikian, Sunan ini termasuk awal, lebih awal dari Walisongo yang memasifkan gerakan dakwahnya pada abad ke 15-16 M. Ini sangat dimungkinkan karena sebenarnya di Surabaya dan sekitarnya, sejak sebelum abad ke 11 diduga kuat sudah banyak komunitas Muslim. Sebagai salah satu buktinya adalah adanya makam seorang muslimah di Gresik yang bernama Fatimah binti Maimun yang wafat tahun 1082 M. Oleh karena itu, bisa diduga bahwa Sunan Lembayung Fadal ini hanyalah bagian kecil dari rombongan para penyiar yang sudah marak “berkeliaran” di Jawa dan sekitarnya untuk menyiarkan Islam.

Jika teori ini benar, maka isu bahwa legenda keislaman Adipoday (Wirakrama) yang disinyalir cucu dari Sunan Lembayung Fadal dan istrinya yang dalam legenda dikenal Potre Koneng semestinya juga Islam. Namun, susah membuktikan keislaman mereka karena sangat minimnya data pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab hampir semua kisah tentang Adipoday dan Potre Koneng diselimuti kabut fiktif yang amat sulit membuktikan historisitasnya. Justru, fakta yang lebih terang menyatakan bahwa anak dari pasangan Adipoday dan Potre Koneng yaitu Jokotole baru masuk Islam kemudian ketika Sunan Paddusan atau R. Bindara Dwiryapada yang menyiarkan Islam di Sumenep dan akhirnya diambil menantu oleh Jokotole. Oleh karena itu, bisa jadi kisah Adipoday dan Potre Koneng hanya disambung-sambungkan dengan kisah Sapudi sehingga seakan satu garis keturunan. Atau bisa saja kisah Sapudi itu juga terlalu dibumbu-bumbui sehingga terkesan Islamnya Raja Sumenep lebih awal masuknnya di bandingkan raja-raja Madura lainnya.

Sunan Ampel dan Cina Muslim di Sumenep

Sultan Abdurrahman, salah satu raja Sumenep
Sultan Abdurrahman, salah satu raja Sumenep

Dakwah yang disiarkan oleh Sunan Ampel sudah berpengaruh luas hingga ke pelosok Madura. Berita tentang adanya agama baru yang memberi harapan sudah sekian jauh menggema di sanubari masyarakat. Secara sukarela satu persatu masuk Islam. Tak terdapat suatu paksaan dalam konversi agama ini. Namun magnet Islam sudah terlalu kuat di hati orang-orang Hindu maupun Budha karena dalam Islam terdapat kekuatan cara pandang yang canggih dan baru bagi mereka.

Memang, jejak-jejak Sunan Ampel tidak terlalu terekam di Madura ini secara jelas. Namun dipastikan aroma dakwahnya senantiasa memancing keingintahuan. Salah satunya dalam kisah Aria Lembu Petteng yang merupakan putra dari Prabu Kertabumi, Raja Majapahit Brawijaya ke V, yang dikirim ke Sampang untuk menjadi Kamituo. Karena tidak tega mendengar rintihan batinnya, ia pun berangkat ke Ampel Delta belajar Islam dan menjadi Muslim kepada Sunan Ampel dan akhirnya meninggal di Ampel. Sayangnya tidak sempat kembali lagi ke Sampang untuk menyiarkan Islam di sana. Sehingga anak-anaknya masih juga dengan agama primitifnya yaitu Hindu. Baru pada masa cucu-cunya ketika kabar Islam sudah semakin santer di masyarakat sudah banyak yang berpindah agama.

Di Sumenep bagian utara, tepatnya di Kecamatan Pasongsongan, terdapat kisah menarik mengenai sebuah perkampungan yang didiami orang-orang Cina Muslim. Mereka mengklaim sebagai keturunan Cina yang masih termasuk santri Sunan Ampel di Ampel Surabaya. Konon mereka mendiami Madura sejak zaman maraknya penyebaran dakwah di jawa melalui tangan-tangan para sunan, utamanya Sunan Ampel di Surabaya. Tercatat, Sumenep sebagai lokasi paling timur Madura yang lebih awal mengalami kemajuan peradaban yang ternyata mempunyai jejak-jejak historis masyarakat Cina yang sudah beragama Islam.

Tercatat bahwa interaksi orang-orang Cina dengan Madura bagian timur ini diperkirakan sejak tentara Mongol dikalahkan Majapahit pada abad ke 13 dimana Aria Wiraraja punya andil besar dalam strategi perang Majapahit ketika itu. Konon, orang-orang Cina sisa-sisa prajurit Tartar itu terperangkap siasat yang dilancarkan oleh Aria Wiraraja sehingga mereka tidak bisa kembali lagi ke negara asalnya. Sumenep kembali berbenturan dengan pasukan Cina ketika terjadi perang dengan pasukan Jokotole pimpinan Dempo Awang di abad ke 15. Orang-orang Cina ini semakin banyak di Madura utamanya di Sumenep ketika VOC sudah mulai menembus perkampungan Madura sejak abad ke 17-19, dimana orang-orang Cina ikut serta meramaikan perhelatan ekonomi di pulau garam ini.

Di mana-mana, orang-orang Cina biasanya beragama Konghucu atau Budha. Namun, belakangan banyak ditemukan agama mereka yang sudah berpindah ke Katolik maupun protestan karena alasan-alasan strategis pragmatis, seperti keamanan dan ketenteraman, utamanya dalam berbisnis. Di mana-mana orang-orang Cina juga dimusuhi oleh penduduk setempat termasuk penduduk Islam di Madura karena perbedaan agama. Oleh karena itu, sangat wajar apabila sentra orang-orang Cina itu lebih memilih bertahan di perkotaan karena akan lebih aman dan lebih mudah melakukan aktivitas ekonomi. Dengan kegigihan dalam berniaga, hampir di seluruh perkotaan Madura orang-orang Cina menguasai ekonomi dan pasar strategis yang berpusat di kota.

Fakta itu setidaknya bisa dipahami secara jamak. Namun, suatu hal yang cukup unik, bahwa di masyarakat Cina di Kecamatan Pasongsongan ini sudah Muslim, hidup di perkampulan muslim, berbaur dengan masyarakat Muslim asli Madura. Sebuah pertanyaan mungkin akan muncul, mengapa orang-orang Cina bisa hidup di kampung yang jauh dari perkotaan? Lalu mengapa juga mereka beragama Islam, padahal pada umumnya orang-orang Cina beragama Konghucu?

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Moh. Ali Al-Humaidi menunjukkan bahwa orang-orang Cina memang selalu terdiskriminasi secara ras. Dengan begitu, secara pragmatis apabila ingin bertahan di daerah-daerah pedalaman, maka mau tidak mau harus menjalani akulturasi dengan budaya dan agama setempat. Sehingga bisa saja menjadi alasan perpindahan agama kepada Islam adalah karena alasan pragmatis. Namun demikian, hasil observasi Ali Al-Humaidi ini mencatat, bahwa orang-orang Cina di kampung ini sudah Muslim dari nenek moyang mereka.

Diceritakan, nenek moyang mereka masih bermarga King, sehingga nama depan mereka memakai “K”, merupakan santri dari Sunan Ampel. Ia bernama Kingpangkeng yang makamnya saat ini di Ampel Surabaya. Ia diambil menantu oleh kerajaan Sriwijaya yang kemudian mempunyai dua orang putri, yaitu Tiesi dan Caul. Caul dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Biangseng. Akhirnya Caul meninggal dan kemudian Biangseng dinikahkan dengan adiknya yaitu Teisi. Dari pasangan Biangseng dan Tiesi kemudian dikaruniai anak bernama Cabun. Setelah meninggal, Biangseng oleh Sriwijaya dikuburkan di Ampel dan diberi gelar Tumenggung Ongkowijoyo. Orang-orang Pasongsongan mengklaim bahwa Ongkowijoyo yang berguru langsung ke Sunan Ampel itu adalah nenek moyang mereka. Mereka menyebutnya dengan “Pujuk Ampel”.

Menurut hasil observasi ini, proses migrasi etnis Cina ke Sumenep diperkirakan pada abad ke 14. Sebagian keturunan Biangseng kemudian diambil menantu oleh kerajaan Sumenep di masanya Aria Wiraraja karena Biangseng sendiri adalah dari kalangan Bangsawan Cina sehingga mudah diterima oleh keluarga kerajaan Sumenep. Orang-orang Cina keturunan di kampung ini meyakinkan bahwa, nenek moyang mereka ini merupakan murid langsung dari Sunan Ampel di Surabaya. Tidak hanya itu, disebutkan juga bahwa ketika menetap di Pasongosngan, di sana juga terdapat Murid Sunan Ampel yang lain yang bernama Kyai Ali Akbar yang kemungkinan besar dikirim untuk menyebarkan dakwah Islam dan sesepuh Cina itu menambah ilmu keislamannya kepadanya. Bersama ulama ini Islam disebarkan di daerah Pesisir utara Madura.

Bacaan lanjut: Muh. Ali Al-Humaidi, Cina Dalam Bingkai Islam Pesisir, (Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2010).

(http://dimyati1980.wordpress.com/2012/09/11/islam-di-madura-legenda-dan-fakta/)

Versi Skripsi Yunita

Komunitas Cina Muslim Desa Dungkek, Kabupaten Sumenep (1966-1998) — YUNITA HEKSA ERAWATI

ABSTRAK

bonsai di rumah Engkong K. Abu Muthar
bonsai di rumah Engkong K. Abu Muthar

Heksa Erawati, Yunita. 2012. “Komunitas Cina Muslim Desa Dungkek, Kabupaten  Sumenep (1966-1998)”. Skripsi, Jurusan Sejarah, Program Studi S1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Abd. Latif Bustami, M.Si, (II) Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum

Kata Kunci: Komunitas, Cina Muslim, Desa Dungkek

Komunitas merupakan satuan kelompok yang hidup berinteraksi dalam suatu daerah tertentu, salah satunya adalah komunitas Cina. Untuk bertahan hidup komunitas Cina perlu adanya suatu pembauran, yaitu dengan beragama Islam. Di Madura, komunitas Cina muslim banyak ditemukan Sumenep, khususnya di Desa Dungkek. Adapun faktor-faktor penggerak komunitas Cina menjadi Islam adalah, (1) Lingkungan, (2) pendidikan, (3) kemauan sendiri dan (4) perkawinan.

Dalam penelitian ini berawal tahun 1966 adalah awal dari berdirinya Orde Baru, banyak peraturan pemerintah yang mengangkat masalah asimilasi dianggap diskriminasi dan merupakan suatu pemaksaan bagi etnis Cina. Tahun 1998 menjadi batas akhir karena berakhirnya pemerintahan Orde Baru, berakhir pula peraturan-peraturan bagi etnis Cina berpengaruh  pada kembalinya hak-hak etnis Cina di bidang politik, sosial maupun budaya.

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan gambaran umum kondisi Desa Dungkek, (2) untuk mendeskripsikan Islamisasi Cina Dungkek, (3) untuk mendeskripsikan kehidupan sosial budaya Cina Dungkek tahun 1966-1998.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan tentang sejarah komunitas Cina yang ada di Dungkek tahun 1966-1998. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif historis. Metode penelitian sejarah merupakan sekumpulan prinsip dan aturan sistematis yang dimaksudkan untuk memberi bantuan secara efektif dalam usaha pengumpulan bahan bagi penulisan sejarah, menilai secara kritis dan kemudian menyajikan suatu sintesis hasil-hasilnya menjadi suatu cerita sejarah. Adapun prosedur penelitian ini adalah:(1) pemilihan topik, (2) heuristik (pengumpulan data), (3) kritik (verifikasi), (4) interpretasi (penafsiran), (5) historiografi, (6) sistematika penulisan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedatangan komunitas Cina ke Dungkek berawal dari pembangunan Masjid dan Keraton Sumenep pada abad ke-17. Pada awalnya mereka datang ke Dungkek hanya untuk mencari bahan baku untuk pembuatan Masjid dan Keraton sehingga daerah yang dijadikan tempat galian batu disebut Dusun Panjurangan yang masih ada sampai sekarang. Dari situlah terjadi interaksi sosial antara pendatang Cina dengan masyarakat setempat sehingga lambat laun banyak orang Cina yang menikah dengan wanita setempat dan beragama Islam karena mayoritas masyarakat Dungkek beragama Islam.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya kenyataan sejarah bahwa komunitas Cina muslim Dungkek merupakan bagian integral dari masyarakat Dungkek, karena mereka mempunyai akar sejarah yang sangat panjang di Dungkek, yakni sejak abad ke-17. Hasil hubungan kultural antara Cina muslim dengan pribumi telah mengisi khasanah budaya lokal Madura, baik dalam bahasa, agama, sistem kekerabatan dan adat istiadat.

(http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/21101)

(http://hekzigzag.blogspot.com/2010_10_01_archive.html)

Versi Zhang Wubin

Pasongsongan, Madura / 2008. (Terjemahan bebas)

Rumah peninggalan K. Aminuddin
Rumah peninggalan K. Aminuddin

Sejarah para penduduk Tionghoa di Pasongsongan sangat tidak sempurna diketahui.  Terletak di tepi barat pesisir Jawa, Kampung Lebak adalah kampung tertua yang ada di Pasongsongan. Di sana terdapat sebuah kampung peranakan yang letaknya 150 m dari pesisir, tapi ia agak kurang kuno. Ibnu Suaidi yang lahir 1955 menceritakan kisah yang membingungkan tentang Keng Biangseng salah satu dari penduduk Cina pertama di Pasongsongan. Menurutnya, ia adalah empat dari empat bersaudara Hokkian yang menuju ke Indonesia ketika Mongolia menyerang China. Keng Biangseng berakhir di Sulawesi dimana ia menikah dengan seorang putri Bone dan kemudian memeluk Islam. Setelah sang putri wafat, Keng meninggalkan Bone dan menetap di Pasongsongan. Inilah awal mula komunitas Muslim Peranakan di Pasongsongan.

Adalah sangat mustahil leluhur Suaidi tiba di Madura pada abad ke-13 M. Ia bahkan menambahkan tentang sejarah keluarganya dengan mengklaim rumah ayahnya di Kampung Peranakan, yang menampilkan inskripsi Arab dengan usia bangunan pada 1847, telah dibangun oleh kakek buyutnya Keng Ah Mei. Keng Ah Mei disebut sebagai cucu dari Keng Biangseng. Rumahnya saat ini dihuni oleh ayah Suaidi, K. Siradjuddin (lahir 1929).

Bibi dari sebelah ibu Suaidi, Ummur Hairiya tinggal di sebelah rumahnya di rumah tahun 1930an. Dia berasal dari desa Tamedung di Batang-batang, dimana Keng Biangseng dimakamkan.

Tampaknya leluhur Ibnu Suaidi tiba di Pasongsongan pada sekitar abad ke-18 M. Terdapat pemakaman Islam berusia 150 tahun di taman pemakaman keluarga Suaidi di sepanjang Jalan Utama tak jauh dari Kampung Peranakan.

Menurut Suaidi, leluhurnya pertama kali membangun perumahan di Kampung Lebak, menciptakan Pecinan di antara desa. Setelah cukup makmur, mereka pindah ke Kampung Peranakan. Tampaknya, leluhur Suaidi adalah para pedagang yang berbisnis kayu dan beras di Madura, Sulawesi dan Taiwan. Bisnis keluarganya berakhir dengan wafatnya kakeknya pada tahun 1958 ketika umurnya 70 tahun.

Tak seperti Peranakan Muslim di wilayah lain Indonesia, kebangkitan Konghuchu dan pergerakan keCinaan yang bermula pada akhir abad ke-19 tidaklah berpengaruh kepada keluarga Suaidi.

Akan tetapi pada masa yang sama, keluarganya tidak menjadi pribumi Indonesia, tak seperti Muslim Cina lain yang menikah dengan Muslim “pribumi.” Bahkan, sampai generasi ayahnya, mereka tidak diizinkan menikah dengan pribumi. Larangan ini berakhir pada masa Suaidi, yang menikah dengan Mulyani seorang pribumi Solo. Inilah sebabnya Peranakan di Pasongsongan, yang berjumlah sekitar 120 orang, menjadi kerabat Ibnu melalui perkawinan antara keluarga.

(http://www.last-harbour.com/chinese%20muslim%20web2.pdf

http://www.saudiaramcoworld.com/pdf/2010/201004/player/files/pdf/publication.pdf)

Versi Sejarah Arsitektur

Pertukangan kayu dan batu orang Cina di Jawa.

Masjid Sumenep karya Lauw Pia Ngo
Masjid Sumenep karya Lauw Pia Ngo

Yang dimaksud dengan pertukangan kayu disini termasuk:

Sistim konstruksi bangunan dari kayu (termasuk sambungan kayu, cara merekatkan kayu dengan lem dsb.nya)
Semua ragam hias bangunan dari kayu (termasuk hiasan pada interior dan ukir-ukiran dari kayu)
Perabotan dari kayu (termasuk meja, kursi serta perabotan lain dari kayu)
Tidak seperti pengaruh Hindu, pengaruh peradaban Cina terhadap peradaban Jawa dan Bali kurang diketahui. Namun ada kemungkinan seni rupa Jawa dan Bali jaman pra Islam memiliki lebih banyak unsur dan motif China daripada yang diungkapkan hingga kini (Graaf, 1985:10) Berita pertama mengenai masyarakat Cina Muslim di Jawa berasal dari Haji Ma Huan, seorang sekretaris dan juru bahasa Cheng Ho (Zheng He). Cheng Ho (Zheng He) adalah laksamana kaisar Cina pada jaman dinasti Ming(1368-1644) yang mendapat tugas memimpin misi muhibah mengunjungi negeri-negeri di seberang lautan.

Ma Huan sedikitnya telah mengikuti tiga kali misi muhibah Cheng Ho. Masing-masing muhibah keempat (1413 1415). keenam (1421-1422) dan yang ketujuh (1431-1433). Dari perjalanan muhibahnya tersebut Ma Huan berkesempatan melihat dari dekat keadaan masyarakat di Jawa waktu itu. Ma Huan selanjutnya menjelaskan bahwa di Jawa terdapat tiga golongan masyarakat. Pertama adalah orang Islam yang berasal dari kerajaan asing yang terletak di sebelah Barat dan telah datang ke Majapahit sebagai pedagang. Kedua Orang Cina yang berasal dari dinasti Tang (618-960), yang berasal dari propinsi Guangdong, Zhangzhou, Quanzhou dan daerah Cina Selatan yang berdekatan. Banyak diantara mereka ini yang memeluk agama Islam, sembahyang dan melakukan puasa. Sedangkan yang ketiga orang orang setempat yang berkaki telanjang, dan masih memuja hantu-hantu.

Dari sumber-sumber berita diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:

Orang Cina Muslim pada abad ke 15 sudah banyak terdapat dikota-kota pelabuhan, terutama di Pantai Utara P. Jawa.
Sudah banyak terdapat suku bangsa Cina dari propinsi Guangdong yang terdapat di Jawa. Hal ini penting karena sebagian besar suku Konghu (asal Guangdong) secara turun menurun berprofesi sebagai tukang yang sangat ahli dalam pengerjaan kayu dan batu.
Sebagian besar suku Konghu (asal Guangdong) biasanya secara turun menurun menjadi tukang kayu. Mereka ini bahkan sampai mempunyai kelenteng khusus yang dipersembahkan pada ‘Lu Ban’ (Kelenteng Lu Ban-Lu Ban Gong) yang mereka anggap sebagai dewa pelindung para tukang kayu (lihat : Cl. Salmnon & Denys Lombard (1985) Kelenteng-Kelenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Yayasan Cipta Loka, Jakarta).

Jasa pertukangan kayu dan batu dari suku Konghu (asal Guangdong) ini terus digunakan oleh orang-orang Belanda dalam

membangun gedung-gedung kolonial di seluruh Hindia Belanda. Sebagai contoh misalnya bangunan ‘Gedung Sate’ yang terkenal sebagai bangunan monumental yang terindah di Indonesia, juga memakai jasa keahlian tukang-tukang kayu dan batu orang suku Kwang Tung ini untuk pekerjaan kayu dan ukiran dari batunya.

Seperti dikatakan oleh Haryoto Kunto dalam bukunya, Balai Agung di Kota Bandung, PT. Granesia , Bandung (1996: 113), bahwa: “Pembangunan Gedung Sate mengerahkan paling sedikit 2000 orang kuli dan tukang. Diantara pekerja tersebut terdapat kurang lebih 150 orang Cina Konghu (Kwang Tung-Guangdong) atau Kanton. Bekas jamahan tukang kayu dan batu bangsa Cina itu masih bisa disaksikan sampai sekarang pada bangunan gedung Sate”

Selain itu tercatat bahwa daerah-daerah pesisir yang paling dulu di Islam-kan seperti Demak, Kudus, Jepara tercatat bahwa kerajinan ukiran kayu bertahan sampai abad ke 20. Bahkan juga daerah seperti Madura terdapat ukiran kayunya dengan pengaruh Cina sangat kental.

Mengenai pengaruh pertukangan dan ukiran kayu di Madura, terdapat nama-nama seperti Pia Ngo (arsitek mesjid Agung dan Keraton Sumenep), Lauw Kun Thing pelopor ukiran kayu di daerah Madura ( baca Kompas, Jumat 7 April 2006: Antara Sulur Daun dan Belitan Sang Naga). Tentang komunitas orang Cina– Islam di Madura lihat Ong Hok Ham (2005), Masyarakat Peranakan di Madura Keyakinan Islam dan Asimilasi, dalam ‘Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa’, hal. 15-31.

Sejarah tutur disekitar daerah mesjid Menara Kudus, menyebutkan nama Kyai The Ling Sing, sahabat karib Sunan Kudus (Ja’far Sodiq – abad ke 15) dan sekaligus sebagai peletak dasar pertukangan dan seni ukir kayu di daerah Kudus dan  sekitarnya. Beberapa ratus langkah dari mesjid Menara Kudus sampai sekarang terdapat makam Kyai Telingsing (The Ling Sing), dan ada jalan disekitar mesjid tersebut yang sampai sekarang dinamakan sebagai Jalan Telingsing. Sejarawan Denys Lombard mendukung kebenaran sejarah tutur setempat tersebut (Lombard, 2, 1996:316). Tentang Kyai The Ling Sing ini juga terdapat pada buku Graaf (1985: Bab V, Sejarah Kerajaan Kecil di Pantai Utara Jawa Tengah pada abad ke 16: Kudus, hal. 108-122)

Disamping itu ada juga nama Sun Ging An pada abad ke15, yang ahli dalam bidang seni ukir di Kudus. Karena itu daerah Sunggingan dulu merupakan daerah ukir di Kudus. Gaya seni ukir Sunggingan ini berkembang pesat yang selanjutnya menjadi salah satu unsur pokok bagi perkembangan arsitektur rumah tradisional Kudus. Hal ini dapat dilihat pada bentuk dan motif krobongan rumah adat Kudus, bentuk regol, kongsel dan ornamen ukiran yang bercirikan ular naga. (Qurtuby, 2003:138). Kongsel atau ‘sanggahan’ adalah tiang-tiang penyangga emperan depan yang berjumlah sembilan buah dengan bentuk/ciri khas Kudus.

Tokoh Sunan Sungging sebagai ayah The Ling Sing ini diketemukan di dalam manuskrip yang ditulis Kyai Zawawi Mufid, ulama kharismatik Kudus (20 Desember 1985), yang berjudul “ Sekelumit Sejarah Mbah Kyai The Ling Sing” yang dihimpun dari cerita lisan yang beredar dimasyarakat. Perlu dicatat disini bahwa sejarah lisan sekarang mulai menjadi perhatian para sejarawan. Lihat buku “Sejarah Lisan Di Asia Tenggara” teori dan metode oleh P. Lim Pui Huen et.al.(2000), LP3ES.

Juga tercatat nama Tjie Wie Gwan, yang menurut sejarah tutur di Jepara merupakan seorang Cina Muslim yang ahli dalam pertukangan kayu dan seni ukir pada masa Ratu Kalinyamat (abad ke 16). Tjie Wie Gwan dijuluki sebagai Sungging Badar Duwung (ahli pemahat batu). Makam Tjie Wie Gwan terdapat diantara makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat (penguasa Jepara abad ke 16). Berkembangnya seni ukir Jepara ini tidak luput dari jasa Tjie Wie Gwan (Qurtuby, 2003: 137). Catatan sejarah lisan/tutur tersebut diatas merupakan bukti bahwa seni pertukangan batu dan kayu Cina sudah berkembang di kota-kota pelabuhan pantai Utara Jawa (Jepara, Kudus, Demak, dsb.nya) sejak abad ke 15 dan 16, bahkan pada jaman sebelum itu.

(http://humaspdg.wordpress.com/2010/06/01/pengaruh-pertukangan-cina-pada-bangunan-mesjid-kuno-di-jawa/)

MASJID AGUNG SUMENEP

trip-madura-solo-0572Masjid Agung Sumenep terletak di kawasan alun-alun atau jantung kota Sumenep. Masjid Agung ini berarsitektur unik dan hampir tiada duanya di Nusantara. Dalam prasasti Masjid Agung Keraton Sumenep yang ditulis dengan huruf arab pegon dan Jawa kuno. Pada sisi kiri dan kanan pintu gerbang bangunan masjid, ditulis bahwa masjid tersebut di bangun pada 1779 masehi atau 1193 hijriah oleh Panembahan Somala.

Awal cerita pada saat itu masjid tersebut adalah masjid keraton sumenep pertama atau masjid laju sudah tidak dapat menampung jama’ah. Penembahan Somala atau dikenal Pangeran Natakusuma I yang memiliki nama asli aria asirudin natakusuma ini kemudian berinisiatif untuk mendirikan masjid monomental yang punya daya tampung lebih dari 2.000 orang .

Beliau lalu mengangkat pamannya Kiai Pekkeh menjadi kepala tukang, dalam perencanaan Kiai Pekkeh kesulitan menangkap keinginan Panembahan Somala, sehingga beberapa bulan pembangunan masjid tidak terlaksana.
Lalu panembahan somala melakukan sholat istikharah dan kemudian mendapatkan petunjuk bahwa di desa Pasongsongan ada tukang keturunan bangsa Cina.  Ternyata petunjuk itu benar, salah seorang tukang tersebut keturanan cina bernama Lauw Phia Ngo, cucu dari Lauw Khun Thing.

Dan pada saat itu juga panembahan somala memberi kebebasan pada Lauw phia ngo untuk melalukan ekspresi seni pada pembangunan masjid sehingga terciptalah masjid agung yang monomental tersebut. Arsitek yang ber-etnis tionghua telah menorehkan unsur budaya Cina pada seni bina bangunan masjid ini selain itu Lauw Phia Ngo juga menyatukan seni Arab, Persia, Jawa, dan India nenjadi satu Kesatuan yang utuh pada bangunan Masjid Agung Sumenep ini.

(http://khaspasongsongan.blogspot.com/2013_05_01_archive.html)

Versi Keempat

Islam di Sumenep, dan Perkembangannya

Proses Islamisasi di Pulau Madura  Oleh : Siti Nur Munasharoh

keramik Cina warna biru dalam Masjid Sumenep
keramik Cina warna biru dalam Masjid Sumenep

Abad ke 7 Islam  pertama kali mulai masuk ke Nusantara melalaui perdagangan, yang dulunya pusat perdagangan tersebut di Malaka. yang dimulai dari wilayah malaka yang kemudian diteruskan ke wilayah wilayah lainnya. Islam  pun mulai menyebar ke seluruh Indonesia setelah dari bagian wilayah Sumatra kemudian lanjut ke wilayah Jawa. Di Jawa, kerajaan yang pertama kali masuk Islam  ialah kerajaan Demak, yang kemuian berlajut ke Gresik, tepatnya di Sedayu, Tuban, Probolinggo, selanjutnya ke pulau Madura.

Di pulau Madura sendiri, kebanyakan sudah banyak daerah daerah yang sudah mengenal agama Islam , baik itu daerah Sumenep, Pamekasan, Bangkalan dan Pulau Sapudi. Atau bisa dikatakan bahwa Penyebaran Islam  dimulai dari Malaka, ada yang langsung ke Minangkabau dan ada yang ke Jawa Timur, yaitu di Gresik dan Tuban. Dari Gresik, agama Islam  kemudian berlanjut ke arah bagian pulau Madura.

Di pulau Madura sendiri ada 2 bagian wilayah yaitu Madura bagian Timur dan Madura bagian Barat. Madura bagian barat termasuk, Sampang dan Pamekasan, serta Madura bagian timur termasuk, Sumenep dan pulau Sapudi. Di dalam artikel ini akan membahas proses Islamisasi di daerah Sumenep.

Pada zaman Pra Islam  (sebelum agama Islam  masuk), kebanyakan kerajaan di pulau Madura ini merupakan lanjutan dari kerajaan di Jawa, yaitu kerajaan Kediri, Majapahit, Singhasari, Mataram, dan lain lain. Serta juga menganut agama Hindu Budha. Bukti bukti tentang adanya agama Hindu Budha di pulau Madura ini hanya sedikit, yaitu hanya ada dua candi, di Pamekasan dan di Sumenep. Kemudian pada abad ke- 15 Masehi, Islam  pertama kali disebarkan di pantai selatan kota Sumenep. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa sebelum kerajaan Majapahit runtuh, Madura sudah mengenal terlebih dahulu Agama Islam.

Ada beberapa jalur dalam proses Islamisasi di pulau Madura, yaitu jalur kerajaan, jalur perdagangan dan jalur para wali atau para sunan.

1.       Jalur kerajaan

Jalur ini merupakan bahwa proses Islamisasi Madura ini melalui pemimpin dan bangsawan kerajaan. Maksudnya kalau para raja rajanya beragama Islam , maka penduduk atau warganya juga ikut memeluk agama Islam . Misalnya sunan Padusan yang berhasil mengIslam ka raja Jokotole, karena raja tersebut tertarik terhadap ajaran Islam  yang diberikan oleh Padusan. Akibat rajanya memeluk agama Islam  maka rakyatnya juga ikut memeluk agama yang sama.

2.       Jalur Perdagangan

Jalur ini yang paling banyak berpengaruh, hal ini dikarenakan pada abad ke 7 Islam  pertama kali masuk ke Nusantara juga melalui perdagangan. Istilahnya jalur ini yang pertama kali membawa agama Islam . kebanyakan para pedagang yang membawa agama Islam  ini berasal dari Arab, Gujarat, dan Persia. Akan tetapi d Madura ini, yang menyebarkan agama Islam  tersebut, berasal dari orang Melayu. Di Madura sendiri, lebih tepatnya di pantai selatan Sumenep. Jadi perdagangan serta penyebaran Islam  itu dimulai dari daerah Sumenep.

Selain itu, daerah Sumenep sendiri merupakan kawasan perdagangan yang paling ramai di Madura  Hal ini dikarenakan didaerah daerah pesisir merupakan tempat para pedagang pedagang untuk singgah terlebih dahulu, entah itu untuk beristirahat ataupun untuk menjual dagangannya, seperti keramik, baju, makanan, rempah rempah, dan lain lain jadi hal tersebut dimanfaatkan juga untuk menyebar keyakinan mereka di dalam agama Islam  ke daerah yang disinggahinya. jadi Islam  di daerah Sumenep ini tumbuh lebih maju bila dibandingkan dngan Madura bagian dan Pamekasan.

3.       Jalur para Sunan atau Wali serta pengaruhnya terhadap orang orang Cina

Persebaran agama Islam  di Madura tersebut tidak hanya melalui dari jalur perdagangan saja, tetapi juga dari peranan para wali yaitu dari Sunan Ampel dan Sunan Giri yang mengutus murid muridnya ke madura. Bahkan Islam  datang ke Madura ini merupakan hasil penyebaran dan pengajaran oleh sunan Giri, serta pedagang pedagang Islam  dari Gujarat yang berlabuh di pelabuhan Kalianget. Untuk sunan Ampel, ternyata dakwahnya sudah berpengaruh luas hingga ke pelosok Madura.

Memang, bukti bukti adanya dakwah sunan Ampel di Madura sedikit, akan tetapi menurut cerita ada suatu cerita yaitu kisah Aria Lembu Peteng yang merupakan putra dari Prabu Kertabumi, Raja Majapahit Brawijaya ke V, yang dikirim ke Sampang untuk menjadi Kamituo. Karena Aria tersebut tidak mau, tetapi ia harus menjalankan perintahnya dari ayahnya.

Maka,  ia pun berangkat ke Ampel Delta secara terpaksa untuk belajar Islam  dan menjadi Muslim kepada Sunan Ampel dan akhirnya meninggal di Ampel. Akan tetapi, sayangnya tidak kembali lagi ke Sampang untuk menyiarkan Islam  di sana. Sehingga keturunannya juga masih menganut agama dahulunya yaitu Hindu. Baru, ketika  pada masa cucu-cucunya mendengar kabar Islam  di kalangan masayrakat maka sudah banyak yang berpindah ke agama Islam.

Masih tentang dakwahnya sunan Ampel, ternyata di Sumenep bagian utara, tepatnya di Kecamatan Pasongsongan, terdapat cerita yang menarik yaitu adanya sebuah perkampungan yang di tempat tinggali oleh orang-orang Cina Muslim. Serta di sana juga terdapat murid Sunan Ampel yang lain yang bernama Kyai Ali Akbar yang dikirim untuk menyebarkan dakwah Islam  ke sesepuh Cina itu menambah ilmu keIslam annya. Bersama ulama ini Islam  disebarkan di daerah Pesisir utara Madura.

Menurut penelitian para ahli, proses migrasi etnis Cina ke Sumeneo diperkirakan pada abad ke 14. Hal ini dimulai ada keturunan Biangseng yang merupakan bangsawan dari Cina, dan kemudian diambil menantu oleh kerajaan Sumenep yang pada saat itu di pimpin oleh Aria Wiararaja.

Mereka menganggap dirinya sebagai keturunan Cina yang masih termasuk santri Sunan Ampel di Ampel Surabaya. Dahulu, mereka mendiami Madura sejak maraknya penyebaran dakwah di jawa melalui tangan-tangan para sunan, utamanya Sunan Ampel di Surabaya. Bisa dikatakan, Sumenep sebagai lokasi paling timur Madura yang lebih awal mengalami kemajuan peradaban yang ternyata mempunyai jejak-jejak historis masyarakat Cina yang sudah beragama Islam.

Asal mula mereka sampai ke tanah Madura ini ialah adanya interaksi orang-orang Cina dengan Madura bagian timur. Diperkirakan sejak tentara Mongol dikalahkan Majapahit pada abad ke 13 dimana Aria Wiraraja mempunyai hak  dalam strategi perang Majapahit ketika itu. Dahulu, orang-orang Cina, yang merupakan sisa-sisa prajurit Tartar tersebut terperangkap dalam siasat yang dilakukan oleh Aria Wiraraja sehingga mereka tidak bisa kembali lagi ke negara asalnya. Orang-orang Cina ini semakin banyak di Madura utamanya di Sumenep.

Yang lebih menarik, kebanyakan orang orang Cina tersebut beragama Konghucu.  Dengan menganut agama tersebut, hal ini lah yang membuat orang orang madura membenci orang orang cina. Bisa dikatakan kalau orang orang di Madura tersebut sangat menjaga agama yang dianutnya yaitu agama Islam . jadi hal inilah yang menyebabkan orang orang Cina lebih memilih bertahan di perkotaan karena lebih aman dan mudah sekali dalam melakukan aktivitas.

Memang hampir di seluruh perkotaan Madura, orang orang Cina menguasai ekonomi dan pasar strategis yang berpusat di kota. Akan tetapi banyak juga orang orang Cina yang sudah beragama Islam , tujuannya agar mereka bisa berkomunikasi dengan orang orang madura lainnya. Menurut Ali Al Humaidi, sebagaian orang orang Cina di wilayah Madura ini sudah muslim dari nenek moyang mereka. Diceritakan bahwa, nenek moyang mereka masih bermarga King, sehingga nama depan mereka memakai huruf “K”. Misalnya Kingpangkeng yang merupakan santri dari Sunan Ampel dan berasal dari Cina. Dahulunya ia diambil menantu oleh kerajaan Sriwijaya yang kemudian mempunyai dua orang putri yaitu Tiesi dan Caul.

Selain melalui jalur perdagangan, jalur para santri atau para wali, dan bahkan melalui jalur kerajaan, saluran Islamisasi di Madura juga melalui jalur santri, pondok pesantren, pengaruh penguasa setempat dan dengan jalan perkawinan baik perkawinan dengan penguasa lokal, atau dengan perkawinan dengan keluarga pemuka agama.

x
raja-raja Sumenep

Pada pemerintahan Panembahan Joharsari, penguasa Sumenep dari tahun 1319-1331 M ini, Sumenep belum menyebar secara luas. Memang Panembahan ini yang pertama kali menganut agama Islam , akan tetapi tidak diketahui oleh siapa yang menyebarkan.

Akan tetapi ada faktor faktor yang mendukung yaitu:

Gelar jabatannya “Panembahan“  di dalam dunia luar Islam  baik agama Hindu, Syiwa, dan agama Budha tidak dikenal gelar jabatan seperi Sultan, Panembahan, dan Susuhunan. Tetapi baru dikenal setelah masuknya agama Islam  di Jawa.
Panembahan Joharsari mempunyai putra bernama Raden Piturut bergelar Panembahan Mandoroko yang beragama Islam , kuburannya di desa Mandaraga Keles merupakan kuburan Islam  yang berkumpul dengan kuburan keluarga Islam  lainnya.
Baru setelah pada pemerintahan JokoTole, Islam  sudah mulai dikenal banyak orang. Panembahan Joharsari mempunyai putra bernama Raden Piturut yang bergelar Panembahan Mandaraka. Panembahan Mandaraka ini berkuasa sampai 1339 M dan mempunyai dua putra yaitu Pangeran Natapraja bertahta di Bukabu dari tahun 1339-1348 M dan Pangeran Nataningrat yang menggantikan kakaknya dengan karaton Baragung yaitu Guluk-Guluk. Pangeran Nataningrat berputra Agung Rawit yang bergelar Pangeran Sekadiningrat I yang memerintah tahun 1358-1366 M dengan keraton di Banasare.

Kemudian ia diganti oleh putranya yaitu Temenggung Gajah Pramada yang bergelar Sekadiningrat II yang memerintah tahun 1366-1386 M. Setelah itu ia diganti oleh cucunya yang bernama Jokotole atau Aria Kudapanole yang bergelar sekadiningrat III, Jokotole atau bisa disebut dengan Aria Kudapanole ini berkuasa sejak tahun 1415-1460 Masehi.

Kemudian, bersamaan dengan itu ada seorang penyiar agama, yang kemudian dikenal dengan Sunan Padusan, nama asli dari sunan ini adalah R. Bindara Dwiryapada. Menurut cerita ia merupakan keturunan dari Arab, yang bernama Haji Usman Manyuram Mandalika atau lebih dikenal dengan Sunan Andung, penyebar agama Islam  di Lombok. Asal mula nama Padusan ialah bahwa setiap orang yang masuk Islam  dan telah dianggap mampu untuk menjalankan syariat Islam , maka ia lalu dimandikan dengan air dengan dicampuri macam-macam bunga yang baunya sangat harum, dimandikan secara demikian disebut dengan “diedus“, karena itu tempat dimana dilakukan upacara tersebut dinamakan desa “Padusan” yang artinya bunga yang harum.

Kampung Padusan ini termasuk desa Pamolokan kota Sumenep. Sunan Padusan ini juga membangun pondok pesantren di Parsang. Tidak disangka hal tersebut menarik perhatian dari pangeran Jokotole dan penduduk sekitar. Yang akhirnya pangeran Jokotole memeluk agama Islam , melalui sunan Padusan.

Karena sunan tersebut berhasil dengan dakwahnya dan ,mengIslam kan pangeran Jokotole beserta anaknya, maka oleh pangeran Jokotole dijadikan menantunya. Hal itulah yang menyebabkan tempat tinggal Sunan Padusan itu yang semula di desa Padusan kemudian pindah ke keraton Batuputih.

Selain sunan Padusan, pada abad ke 17, atau saat pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan tahun 1550-an di daerah Sumenep juga ada seorang tokoh penyebaran agama Islam  lainnya, yaitu Syayyid Ahmadul Baidhawi atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Katandur. Kuburannya terletak di desa Bangkal sebelah timur kota Sumenep dan sampai sekarang lebih dikenal dengan Asta Sabu. Keturunan –  keturunannya banyak yang berhasil dalam mengIslam kan penduduk Madura. Salah satu keturuannya yaitu Bendoro Saud yang akhirnya menjadi penguasa Sumenep dari tahun 1750-1762. Pada abad ke 18, proses Islamisasi di Sumenep semakin meluas ketika diperintah oleh putra dari Bendoro Saud, yang bernama Panembahan Sumolo. Buktinya yaitu adanya keraton Sumenep dan Masjid Jamik. Keraton Sumenep juga berpindah pindah, dari yang semula berada di desa Banasare, kecamatan Rubau, kemudian pada saat pemimpinnya yaitu raja Jokotole (1415-1460) keraton tersebut pindah ke daerah Dungkek.

Dahulu sebelum ada masjid tersebut, sudah ada masjid yang dibangun oleh Raja Pangera Anggadipa (1626-1644), yang letaknya di sebelah Utara. Namanya dulu yaitu Masjid Laju (dalam bahasa Indonesia bernama masjid Lama). Serta kegunaaan masjid dahulu tersebut merupakan masjid keraton yang dikhususkan untuk para raja dan kalangan kerajaan.

Sekarang Masjid Agung tersebut berada di tengah kota Sumenep, tepatnya di jalan Trunojoyo No. 06 kelurahan Bangselok. Letak mesjid ini tidak terlalu jauh dengan bangunan sejarah lainnya yang ada di kota Sumenep, seperti Keraton Panembahan Sumolo.

Masjid Agung Sumenep dibangun oleh Panembahan Sumolo  atau Pangeran Natakusuma I (1762-1811). Sebenarnya, masjid ini adalah pemugaran dari mesjid Laju yang dibangun oleh Pangeran Anggadipa, beliau sendiri pernah pula menjabat sebagai Adipati Sumenep (1626-1644). Dahulu, Pangeran yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma,  menganggap masjid Laju sudah tidak dapat lagi menampung jumlah jemaah Islam  di kota Sumenep yang semakin bertambah.

Rencana pemugaran mesjid Agung Sumenep dilakukan setelah pembangunan Keraton Sumolo  selesai dikerjakan, yakni sekitar tahun 1752. Pada saat itu Pangeran Anggadipa saat melihat hasil karya seorang arsitek Cina yaitu Lauw Pingao dalam membangun keraton Sumolo, maka beliau akhirnya menugaskan kepada arsitek  memugar masjid Laju.

Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang pertama datang dan menetap di Sumenep. Setelah berhasil menyelamatkan diri dari kotaSemarang akibat adanya perang “Huru-hara Tionghwa” (1740 M).

Dari tinjauan arsitektural, mesjid Agung Sumenep telah menjadi bukti adanya akulturasi kebudayaan pada masa silam di kabupaten paling timur yaitu Sumenep. Sejarah telah mencatat, pembangunan mesjid Agung dimulai pada tahun 1779 dan selesai tahun 1787. Terhadap masjid bersejarah ini, Pangeran Natakusuma I berwasiat yang ditulis pada tahun 1806, bunyinya sebagai berikut;

“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Selain itu, ada juga makam Pangeran Pulang Jiwa yang berangka tahun 1678 M yang terdapat di Asta Tinggi. Akan tetapi baru baru ini ditemukan makam kuno sebanyak 7 buah di dusun Kampung Baru Desa pandian, Sumenep, yang oenemunya yaitu bapak Sunarto. Dari penelitian para Sejarawan, ada salah satu nisan makam kuno tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Arab yaitu (Syeh Sayyid Abdullah) yang mempunyai julukan Maha Pati Raja Anggadipa, selain itu ada ukiran dua kalimat syahadat, sholawat nabi dan tulisan dalam bentuk huruf jawa kuno, yang menunjukkan tahun wafatnya yaitu 1151 Hijriyah. Serta menurut warga ada yang menyakini kalau ada salah satu makam tersebut merupakan saudara kandung Sunan Bonang. Karena pada nisannya ada tulisan arab yang berbunyi Bonang yang wafat pada tahun 1241 Hijriyah.

Kemudian di desa Kalimo’ok tepatnya di Trunojoyo, Sumenep terdapat makam Asta K. Ali Barangbang. Ternyata K. Ali mempunyai silsilah dari Syekh Maulana Sayyid Jakfar atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus. K. Ali Barangbang ini wafat pada tahun 1092 Hijriyah. Selama hidupnya K. Ali ini merupakan seorang ulama besar dan juga seorang penyiar agama Islam . Uniknya K. Ali ini mempunyai kelebihan, yaitu ia bisa mengajar ngaji kepada binatang kera.

(http://www.maduracorner.com/islam-di-sumenep-dan-perkembangannya/#.Uuf299L-Khw)

Versi Sejarah Lisan Pertama

Pasongsongan
Abdul Hadi WM dalam prosesi pernikahan khas bangsawan Madura, Pasongsongan, 1978.
Abdul Hadi WM dalam prosesi pernikahan khas bangsawan Madura, Pasongsongan, 1978.

Kampung Raden ini, konon merupakan cikal-bakal Cina peranakan di Madura. Terdapat makam Engkong Biang Seng bersama isteri dan anak cucunya. Sampai sekarang, kondisinya cukup terawatt. Di batu nisan makan Bian Seng, ada prasasti berbahasa Arab yang menunjukan penanggalan dan hari wafat warga Cina itu. Tulisan lengkapnya: Wafat kiay Biyanseng fis sanaid dali fis syahris shafari fi hilali ‘isruna fi yaumi jum’a sanah 1602 M. (Kiai Bian Seng wafat tahun Dal, bulan Shafar, tanggal 10 hari Jum’ah tahun 1602 M.). Nisan ini mempertegas dugaan orang bahwa Engkong Bian Seng adalah pemeluk Islam yang taat.

Di sebelah utara makam, adalah komplek tempat tinggal anak cucu Bian Seng. Komplek ini , dulu, adalah tempat tinggal Bian Seng. Ada sekitar 10 rumah, yang satu agak terpisah. Anak cucu Bian Seng yang masih tinggal di sini sekitar 30 orang. Kebanyakan, orang tua dan anak-anak. Yang muda, umumnya pergi ke luar daerah utuk mencari kerja atau keperluan studi. Rahiqul Mahtum, 45, dan empat pemuda setempat misalnya, kini menjadu kru PO Pelita Mas Kepanjen Malang. Pemiliknya H. Amanuddin (alm.), yang sekarang diganti anaknya, H. Sukandar, juga masih keturunan Bian Seng. Mereka yang tetap tinggal di kompleks itu bekerja sebagai petani.

Siapakah Engkong Bian Seng? Adakah orang tua Bian Seng juga penganut Islam yang taat? Bukti tertulis tidak ada, hanya cerita dari mulut ke mulut, yang sampai sekarang dipegang anak cucu Bian Seng. Satu dan lainnya tidak sama persis.

Salah satu keturunan Bian Seng yang kini masih hidup adalah R. Kafrawi, yang kini tinggal di kota Sumenep. Lelaki yang lahir 8 Agustus 1922 in dan pernah ke Australia, diakui sebagai sesepuh keturunan Engkong Bian Seng. “Kini pun, saya sering ziarah ke makam Bian Seng. Kendati usianya sudah lanjut, namun fisiknya cukup sehat.

Menurut Kafrawi, Biang Seng adalah anak Putri Campa dengan Raja Sriwijaya, kala itu di bawah kekuasaan Majapahit. Namun ia tidak menyebut siapa nama raja Sriwijaya itu. Kisahnya bermula dari pernikahan Raja Majapahit. Ketika hamil, Raja Majapahit memanggil ahli nujum untuk menebak sifat dan karakter janin dalam kandungan. Jawaban yang diperoleh, katanya, anak yang bakal lahir bakal ‘bertentangan’ dengan ayahanda, karena jalan hidup yang dipilih tidak berbeda. Karena ramalan ahli nujum itu, Raja menceraikan putrid Campa, lantas dihadiahkan pada raja Sriwijaya.

Menerima hadiah Maharajanya, raja Sriwijaya pun senang hati. Konon, raja Sriwijaya ini telah memeluk Islam. Putri Campa sendiri, di Sriwijaya merasa seperti di negerinya sendiri. Ia mendengar adzan seperti di negerinya.

Ketika kandunganya lahir, Putri Campa mengingat-ingat ada sebuah surat dalam Al-Qur’an, antara lain Al-Falah dan Al-Fatihah. Maka, anak yang dilahirkan pun diberi nama Raden Patah. Dialah yang kemudian menjadi raja muslim di Demak.

Dari pernikahan ini, juga melahirkan empat anak lagi, yang salah satunya adalah Bian Seng. “Jika ini benar, Bian Seng adalah saudara seibu Raden Patah,” ujar R. Kafrawi.

Kisah sampainya Bian Seng di Madura, diawali oleh serangan Mongol ke Sriwijaya. “Waktu itu kerajaan Mongol ingin menguasai Sriwijaya.” Katanya. Mendapat bahaya demikian raja Sriwijaya mengungsikan kelima anaknya ke luar daerah dengan naik perahu. Dalam pelayaran ini, rombongan anak raja mendapat musibah. Perahu diterjang badai sampai hancur. Kelima anak itu ditolong oleh ikan hiu (mondung = Madura). Satu orang satu ikan. Bian Seng sampai di daratan Bintaro Sumenep.

Kampung Toku Desa Tamidung Kecamatan batang-batang kabupaten sumenep, konon merupakan tanah leluhur dan cikal bakal cina peranakan yang sekarang menyebar ke berbagai daerah seperti ambunten, pasongsongan, pasean, atau batang-batang. Dari daerah itu muncul sejumlah nama terkenal seperti Abdul Hadi WM.

Di kampung ini, orang pertama Cina peranankan memulai hidupnya. Mendirikan ‘padepokan’ sebagai wahana mengasah ilmu dan mencari hidup. Kampung Toku sendiri lebh dikenal sebagai Kampung Raden atau Kampung Pondok. Pemberian nama ini, memiliki latar belakang sejarah. Di kampung pedalaman Madura ini, banyak tinggal orang yang menyandang gelar Raden, menunjukan pertalian darah dengan bangsawan Madura yang berkuasa waku itu, Adipati Arya Wira Raja.

Kampung Radeng berada di arah tenggara Sumenep, berjarak sekitar 35 km. Dari kota kabupaten ini, naik colt jurusan Batang-Batang dengan ongkos Rp 700. Berhenti di dekat kantor polisi Batang-Batang ganti naik colt ke jurusan Batu Putih, turun di desa Kolpoh. Ongkosnya Rp 200. Dari Kolpoh sampai Kampung Raden hanya bias ditempuh dengan jalan kaki selama 1 jam, karena tidak ada ojek. Jika tidak hujan, kampung ini bias dijangkau dengan kendaraan jenis jeep atau kendaraan roda dua jenis trail. Selain kedua jenis itu, tidak bisa dijamin keamanan dan kelancarannya.

Warga Kampung Raden adalah sebagian dari 4.000 jiwa penduduk desa Tamidung. Umumya, mereka bekerja sebagai petani. Di Kampung ini banyak tumbuh pohon kelapa dan siwalan, di samping ketela pohon. Untuk tanaman padi, tampaknya kurang baik apalagi di musim kemarau karena tidak apa irigasi yang memadai.

Tidak sedikit warga ygn pergi ke kota mencari penghidupan baru, seperti ke Surabaya atau kota lain. Bahkan ada yang sampai Bekasi, Jawa Barat. Mereka yang merantau adalah generasi muda yang ingin mencari pengalaman, di samping perbaikan hidup.

(http://lengku.wordpress.com/2011/11/15/laksamana-cheng-ho-bian-seng-nenek-moyang-cina-peranakan-madura/)

Dungkek
Oleh : Ardian Cangianto

Rumah peninggalan K. Aminuddin di Jln. Raya K. Abu Bakar Sidik
Rumah peninggalan K. Aminuddin di Jln. Raya K. Abu Bakar Sidik

Budaya-Tionghoa.Net |Tanggal 20 Juni hingga tanggal 27 Juni 2013 saya bersama teman-teman dari YDSP ( Yayasan Dana Sosial Pariangan ) Bandung, Maranatha, dan universitas Petra yang juga turut disponsori oleh Confucius Institute mengunjungi Sumenep dalam rangka penelitian dan pembuatan film dokumenter. Saya melihat ada banyak hal-hal yang menarik dari hasil perjalanan ini dan dituangkan dalam tulisan bebas.

Dungkek adalah nama sebuah kecamatan di ujung timur pulau Madura yang masuk dalam kabupaten Sumenep. Dungkek memiliki pelabuhan untuk nelayan dan sebagai penghubung dengan pulau-pulau lainnya seperti pulau Sepudi, Raas. Salah satu hasil bumi Dungkek adalah gula siwalan yang seperti gula aren tapi dengan tekstur lebih lembut dan rasa manisnya yang bagus, dimana gula siwalan itu merupakan salah satu bahan untuk kecap manis.

Dungkek menjadi perhatian karena adanya komunitas muslim Tionghoa dan mereka masih konsisten dengan istilah peranakan yang asli yaitu mereka yang memeluk agama Islam itu disebut peranakan dan ada yang melakukan kawin campur dengan penduduk setempat. Satu hal yang unik adalah mereka saat ditanya, tetap merasa sebagai Tionghoa bahkan istilah-istilah ngkong, dede, koko, ema, encim juga merupakan istilah yang digunakan hingga hari ini, termasuk juga di wilayah Pasongsongan, Legong. Di daerah tersebut ternyata ada kantong-kantong komunitas Tionghoa bahkan hingga ke pulau-pulau sekitarnya terutama di pulau Sepudi yang saya lihat dahulu ada puluhan keluarga Tionghoa terutama di makam-makam mereka. Umumnya mereka bermarga Kwee, Lim, Phoa dan Go walau ada marga lain seperti Tan dan Tjoa juga sempat saya lihat.

Asal muasal kata Dungkek ternyata memiliki dua versi, dari versi yang didapatkan di Sumenep, berdasarkan keterangan dari bapak Eddy Setiawan sebagai budayawan maupun bapak Seno selaku pengurus di kelenteng Sumenep dan bapak Imam selaku pengurus kelenteng Pamekasan, mereka mengatakan bahwa asal muasal kata Dungkek adalah ‘dong kek’ ( tongke 通客 ) atau tempat masuknya para pedatang dari Tiongkok ( sengkek新客 ).

Sedangkan dari penuturan orang Tionghoa di Dungkek yang sempat diwawancarai antara lain adalah haji Gaffar dan haji Iman mengatakan bahwa arti Dungkek adalah ‘madung singkek’ yang mengandung arti ‘ singkek yang menggali batu’ atau juga ‘dudung singkek’. Berdasarkan penuturan haji Iman, marga Tjoalah yang pertama datang di abad ke 18 sebagai tukang batu untuk menggali batu dan memahat batu yang digunakan sebagai bahan bangunan untuk gapura masjid jamik Sumenep yang dibangun pada tahun 1779 dan juga keraton Sumenep yang dibangun pada tahun 1781. Kebutuhan akan batu sebagai bahan bangunan harus dipenuhi dan saya beranggapan bahwa harus bisa didapat dan ternyata tanah di Sumenep dan Dungkek adalah tanah cadas.

Atas prakarsa saya, saya dengan dua  teman yaitu bapak Agis dan bapak Aris mengunjungi kompleks pemakaman Tionghoa di Dungkek, sayangnya banyak batu nisan itu sudah tidak ada catatan sama sekali dan sekilas dilihat rata-rata  pekuburan itu adalah awal abad 20 hingga akhir abad 20. Tapi sempat juga ada beberapa nisan yang menggunakan aksara mandarin dan penanggalan Confucius era[1] maupun republic era[2]. Di sana kami dan menemukan hal yang menarik di kompleks pekuburan itu, yaitu adanya lubang-lubang dalam dan terlihat bekas-bekas galian yang ditinggalkan dan beberapa sudah ditumbuhi oleh tumbuhan-tumbuhan. Saya menanyakan pada  bapak Santoso selaku penunjuk jalan tentang lubang-lubang itu, katanya itu adalah tempat pertapaan. Jujur saya tidak percaya jadi saya turun ke 1 lubang terbesar untuk bisa langsung melihat dan tidak terlihat sebagai tempat pertapaan atau apapun yang terkait dengan hal itu. Spekulasi lubang itu sebagai tempat penampungan air juga dikesampingkan karena adanya undakan-undakan anak tangga. Karena sebelumnya sudah mendengar tuturan dari beberapa sesepuh Dungkek tentang tukang batu dari Tiongkok, lubang-lubang ini memiliki kemungkinan bahwa dahulunya adalah lubang galian untuk mengambil batu sebagai bahan bangunan untuk keraton dan masjid. Ketika kembali ke Dungkek, saya bertanya pada haji Iman dan beliau mengatakan bahwa lubang-lubang itu adalah sisa-sisa penggalian pada jaman dahulu bahkan di atasnya masih ada beberapa lubang.

Jika apa yang dikatakan oleh penduduk Dungkek, maka lubang-lubang bekas galian itu bisa semakin mengukukuhkan asal muasal kata Dungkek adalah ‘madung singkek’ yang berarti para pendatang dari Tiongkok menjadi pengrajin dan penggali batu yang digunakan untuk membangun keraton dan masjid di Sumenep.

Sayangnya penelitian kami itu tidak bertujuan menggali asal muasal Dungkek, jadi hal yang saya temukan di kompleks pemakaman dan juga waktu yang terbatas sehingga kemungkinan asal kata Dungkek adalah tukang batu dari Tiongkok tidak bisa dikaji lebih mendalam, seperti misalnya dengan mengkaji batu-batu apa yang digunakan untuk pembangunan masjid serta keraton Sumenep maupun hal-hal lainnya yang lebih mendetail. Semoga saya memiliki kesempatan lagi untuk menjelajahi kompleks pekuburan Tionghoa di Dungkek.

Figure 1 lubang dari bawah

Figure 2 lubang galian

Daftar situs internet :

http://bagianjawatimur.blogspot.com/2010/08/masjid-jami-sumenep-madura.html#ixzz1c3olhSmD

[1] Penanggalan berdasarkan dari tahun kelahiran Confucius yang biasa digunakan oleh beberapa penganut Confuciusm terutama di daerah Asia Tenggara. Penanggalan ini mulai dipakai pada akhir abad 19 dan digagas oleh Kang Youwei selaku reformis Confuciusm dan sistem kalendernya berdasarkan system kalender tionghoa yang berbasis pada system luni solar

[2] Republic era adalah sistem  tahun penanggalan berdasarkan berdirinya republic Tiongkok pada tahun 1911 dan menggunakan system kalender greogorian

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua |  Facebook Group Budaya Tionghoa

(http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3638-asal-usul-kata-dungkek)

Versi Sejarah Lisan Kedua

K. Aminuddin dan saudaranya, serta keponakan dan putranya K. Abu Muthar, 1920.
K. Aminuddin dan saudaranya, serta keponakan dan putranya K. Abu Muthar, 1920.

Versi ingatan keluarga:

Jakfar Faruok Abdillah:

Saya sangat tertarik dengan blog ini, karena saya tengah menelusuri tentang nama Law Pia Ngo. Sebab nama itu adalah arsitek mesjid Agung Kota Sumenep pada akhir abad 18.. Konon Law Pia Ngo bersama sejumlah pemuda dari Tiongkok yang terdampar di pantai Pasongsongan. Pemuda itu mengungsi yang disebabkan huru hara di negeri itu.

Saya berharap Pak Iwan bisa membantu saya, Sebab situs kuburan China yang sangat banyak di Dungkek, Kota Sumenep, pasongsongan. Sudah habis karena tidak terurus. Bahkan sebagian sudah menjadi pemukiman. Sebab saya kemungkinan bagian dari lintasan sejarah itu, karena kakek saya berasal dari Pasongsongan yang saya telusuri jejak itu sejak dua puluh tahun silam.

J. Farouk Abdillah
Jl. Dr. Cipto Tikungan E/6 Pabian – Sumenep- Madura -Jawa Timur

Catatan Gayatri W.M:

Versi yang disampaikan kerabat (sepupu jauh) saya Mas Farouk ini – yang menikah dengan sepupu (dua pupu dengan ayah saya) – ini adalah versi yang pernah disampaikan oleh ayah saya Abdul Hadi W.M, disebutkan bahwa ada leluhurnya yang meninggalkan Tiongkok akibat penindasan Dinasti Manchu (pada pertengahan abad ke-18 M). Versi ini sedikit bertentangan dengan versi bahwa Lauw Pia Ngo adalah imigran akibat Huru Hara Semarang 1740.

(http://driwancybermuseum.wordpress.com/about/)

Versi Daftar Silsilah

Tiga Cucu
Abdul Hadi WM dan tiga cucu perempuannya.

Pertama, kertas catatan silsilah ini diberi judul “Silsilah Ma’una K. Amrin.” Ini merupakan kertas catatan silsilah fotokopi yang sudah difotopi dua atau tiga kali oleh saya sehingga hasilnya tidak bagus. Ma’una dan K. Amrin adalah dua nama yang berbeda. Di samping itu dalam daftar juga dituliskan nama-nama dari garis-garis kekerabatan lain, yang bergabung dalam daftar karena kawin-mawin antara sesamanya. Pada garis kedua silsilah, tampak catatan menjadi “bilineal” karena memasukkan juga keturunan dari anak-anak perempuan. Oleh sebab itu ada yang bergelar Raden baik karena ia menikah dengan bangsawan sehingga mendapat gelar atau karena ibunya menikah dengan seorang raden.

Kedua, pada puncak catatan silsilah disebut adalah D.A.T Tengku kemudian ditulis “(asal dari Makasar)”. Tidak dijelaskan apakah kepanjangan dari “D.A.T.” Apakah D.A.T Tengku yang dimaksud adalah Keng Pangkeng atau keturunannya?

Ketiga, D.A.T Tengku kemudian menurunkan Keng Paeiyan, disebut juga Kapitan Keng, dan ditambah dengan “(Lor Tengku).” Apakah Keng Paeiyan ini yang dimaksud sebagai Keng Pangkeng atau keturunannya?

Keempat, Kapitan Keng kemudian menurunkan tiga orang yaitu K. Klasi, Ny. Siwa, dan K. Tigan. Keturunan Ny.Siwa tentu saja tidak ditulis.

Kelima, nama Caul dan Teisi jika mengikuti versi Ali al-Humaidi sebagai dua putri Keng Pangkeng dari pernikahannya dengan putri Sriwijaya, maka dalam catatan silsilah ia ditemukan di bawah nama K. Ami sebagai catatan kaki. K. Ami merupakan satu dari tiga keturunan K. Tigan. Jadi, K. Tigan mempunyai tiga orang anak yang ditulis, yaitu K. Ami, Ny. Ranila dan K. Jalil. Masing-masing dengan catatan kaki, K. Ami di Pasongsongan; Ny. Ranila di Ambunten dan menikah dengan anak Biangseng yang bernama K. Ranila; sedangkan K. Jalil di Leggung.

Keenam, nama Biangseng ditemukan tidak berada di bawah garis keturunan Keng Pangkeng atau D.A.T Tengku, tetapi pada jajaran yang sama dengan cucu-cucu D.A.T Tengku. Jika demikian, bisa jadi  Biangseng tidak memiliki marga yang sama dengan Keng Pangkeng walaupun bersepupu, karena namanya tidak mendapat gelar “K”. Kemudian diberi catatan kaki “Tamdeung” sebagai nama lokasinya. Sejajar dengannya terdapat K. Marina, agaknya merupakan sepupunya juga, tetapi mendapat marga Keng, atau gelar Kyai?.

Ketujuh, memang benar Biangseng mempunyai keturunan bernama Cabun, jika menurut Ali al-Humaidi ia adalah putra dari Teisi, tetapi di daftar silsilah disebut Sabun, dan tradisi lisan keluarga memang menyebutnya Engkong Sabun. Akan tetapi, Biangseng juga mempunyai anak lain yaitu K. Ranila. Kemudian keturunan K. Ranila sendiri dicatat sebagai suami Ny. Ranila dari K. Tigan.

Kedelapan, jika menurut versi cerita “Kampung Raden”; Saya harus menelusuri lagi apakah H. Amanuddin yang dimaksud adalah yang merupakan keturunan  dari K. Klasi atau yang dari K. Tigan (ada dua nama Amanuddin).

K. Klasi mempunyai delapan orang keturunan, yang kedelapan bernama Abdullah tidak memberi keturunan. Susunannya adalah:

Ny. Sokati, K.Satriya (Pasongsongan), K. Jaelani (Pasongsongan), K. Bandar (Pasongsongan), Ny. Kene’ (Sappora), K. Binanti (Padjalan), Ny. Hawa dan H. Abdullah. Dari sini baru kita menemukan ada garis keturunan perempuan yang masih dicatatkan keturunannya. Misalnya, Ny. Sokati dan Ny. Hawa. Ny Sokati entah ini namanya sendiri atau nama suaminya (seperti kasus nama Ranila); sedangkan Ny.Hawa ditulis menikah dengan H. Hasan; tetapi catatan kertas fotokopi saya terlalu buram untuk melihat nama-nama keturunan mereka.

Dari K. Satriya baru kita menemukan keturunan yang bergelar Raden (R) yaitu R. Ratnawi. Dari R. Ratnawi inilah muncul nama “Ma’una”

Kesembilan, ayah saya Abdul Hadi WM adalah cucu dari Aminuddin – meskipun makamnya kalau tidak salah saya diberikan nama “K” tetapi di dalam daftar silsilah tidak disebut dengan nama “K”. Ada dua jalur dari Aminuddin, yaitu dari sebelah ibu adalah keturunan K. Ami bin K. Tigan; dan dari sebelah bapak adalah keturunan Biangseng melalui keturunan K. Sabun, K. Murjan. Saudara perempuan K. Murjan yang bernama Ny. Izza menikah dengan seorang raden (tidak disebut siapa) dan nama keturunannya semua disebut dengan gelar “R”.

Kesepuluh, keturunan Ma’una menurunkan Maulana Sumodirejo dan A.M (tidak terbaca oleh saya) Sumodiputero. Sedangkan nama Amrin, untuk sementara waktu, saya telusuri adalah keturunan Ny. Sennei (yang terbaca namanya) keturunan dari K. Sabun.

Kesebelas, ada juga empat nama sejajar dengan K. Sabun yang tiba-tiba muncul yaitu K. Suta, dan dua nama bergelar K dan satu nama yang tanpa K, yang tidak terbaca oleh saya.

Keduabelas, yang unik adalah nama H. Hasan yang muncul sebagai nama Ny. Hawa (putri K. Klasi bin K. Paeiyan). Meskipun dituliskan nama garis keturunan Ny. Hawa sendiri, dan sama namanya, tetapi nama H. Hasan sengaja diletakkan di samping nama Soddara dengan lima keturunan yang dapat diduga kawin-mawin dengan kerabat dalam garis silsilah Ma’una ini. H. Hasan yang diletakkan sejajar dengan Soddara, kemungkinan saudaranya, atau sepupunya. Saya harus memeriksa lagi hal ini.

Ketigabelas, K. Abu Bakar Siddik yang menjadi nama Jalan Raya Pasongsongan karena kepahlawanannya pada masa revolusi kemerdekaan, juga sepertinya adalah berasal dari garis keturunan K.Tigan. 

Keempatbelas, nama K. Ali (karena hanya ada satu nama Ali yang saya temukan, kecuali Aliya, dan Alibasa) yang saya temukan adalah keturunan K. Subagya keturunan K. Bandar.

Kelimabelas, saya tidak menemukan Lauw Pia Ngo maupun Lauw Kun Ting. Saya duga nama mereka ditulis dalam bahasa Arab. Saya berusaha keras menemukan nama yang serupa, yang baru saya temukan adalah K. Lowan keturunan dari Ny. Ranila.

Keenambelas, ada dua nama Ny. Ranila, yaitu Ny. Ranila putri dari K. Tigan yang berkedudukan di Ambunten, dan Ny. Ranila yang merupakan anak K. Jalil di Leggung yang berkedudukan juga di Leggung. Garis keturunanan keduanya tetap tercatatkan.

Ketujuhbelas, Suaidi yang disebutkan dalam catatan Zhang Wubin, merupakan putra Sirajudin, dan Sirajudin memang adalah keturunan dari K. Ami (Keng Ah Mei). Sedangkan untuk nama R. Kafrawi, namanya belum saya temukan.

KESIMPULAN

Salar

Untuk mengharmoniskan antara pendekatan sejarah lisan yang turun-temurun dalam keluarga – karena saya masih keturunan – dan yang beredar dalam masyarakat, dengan pendekatan sejarah modern, serta pendekatan peninggalan arkeologis, dan pendekatan sejarah mengenai penyebaran Islam yang sudah tersebar luas di Nusantara; serta dengan pendekatan melihat daftar silsilah (di mana tampaknya tidak semua peneliti mendapatkan salinannya); saya mencoba menarik kesimpulan sebagai berikut:

Teori saya pribadi untuk sementara waktu:

Untuk menselaraskan dengan jalannya sejarah lisan berupa legenda dan mitos-mitos, maka yang dimaksud adalah garis keturunan Keng Pangkeng – bahkan dalam daftar silsilah sekali pun – dapat diduga ia bukan anak tetapi cicit atau buyut; jika harus ditarik dari zaman Sunan Ampel yaitu abad ke-15 M. Dan, Keng Pangkeng sendiri harus dipahami sebagai keturunan tentara Tatar, bukan tentara Tatar sendiri yang pergi ke Madura. Ingatan sejarah tentang Tatar ini adalah ingatan atau koleksi ingatan sejarah lokal yang kerap diabaikan oleh metode sejarah modern sebab Pasukan Tatar di Majapahit dikalahkan berkat bantuan Raja Madura.

Oleh karena itu Keng Pangkeng adalah keturunan pasukan Tatar, bukan anggota pasukan Tatar yang dari abad ke-13, tetapi bergelar Kapitan karena sudah terdapat komunitas Cina di tempatnya, maka ia diangkat sebagai kepalanya. Atau, Keng Pangkeng sebagai bangsawan yang tak mau kembali Tatar karena takut mendapat hukuman, dialah yang menurunkan D.A.T Tengku (Lor Tengku) dan kemudian Kapitan K Paeiyan. Jadi Lor Tengku maupun Kapitan K. Paeiyan adalah keturunan dari Keng Pangkeng yang terkenal sebagai murid Sunan Ampel. Dengan begitu “puzzle” abad ke-13 sampai ke-14 M sebagaimana yang diragukan oleh Zhang Wubin agak terpecahkan.

Walau demikian, pada mulanya saya agak bingung mengapa nama sepenting Ny.Teisi dan Ny. Caul tercatat dalam catatan kaki K. Ami, yaitu putra dari K. Tigan. Ia tidak disebut sebagai istri-istri Biangseng. Apakah hubungan K. Ami dengan Biangseng? Untuk memecahkan hal ini maka perlu ditelusuri siapakah Kengpangkeng ini sendiri. Artinya dia diduga menikah dengan perempuan lain, kemudian menurunkan D.A.T Tengku dan K. Paeiyan, kakek dan bapak dari K.Klasi, Ny.Siwa dan K.Tigan. Ini sebabnya ia juga diceritakan menikah dengan putri Bone (dan punya keturunan di sana, sehingga orang-orang di Pasongsongan bangga menyebut masih keturunan Makassar), selain dengan putri Sriwijaya. Berikutnya ada kesalahpahaman juga barangkali bahwa Caul dan Tiesi bukan anak, melainkan cucu Kengpangkeng dari pernikahannya dengan putri Sriwijaya yang dinikahkan dengan sesama cucunya sendiri tapi dari istrinya yang lain, yaitu K. Ami. Tetapi, Biangseng tidak menikah dengan Caul maupun Tiesi, melainkan keturunan mereka yang menikah satu sama lain yaitu sebagai berikut:

Biangseng berputrakan K. Ranila dan K. Sabun; tetapi nama istrinya tidak dicantumkan. Namun, dugaan kuat saya karena endogami yang mereka lakukan dan pencatatan silsilah bilineal sehingga terdapat saling-silang. Sebab keturunan Tiesi dan Caul dengan K. Ami bernama Ny. Muryan menikah dengan K. Muryan anak dari K. Sabun. Di sinilah kekacauan itu timbul. K. Muryan menurunkan seterusnya antara lain K. Aminuddin. Jadi K. Aminuddin (kakek buyut saya) dari garis ibu adalah keturunan K. Ami (keturunan Kengpangkeng) dan dari garis ayah adalah keturunan Biangseng. Sejauh ini itulah yang berusaha saya pahami.

Ada dua hal mengenai Biangseng (w. 1602 M) – dan jika sesuai tradisi lisan adalah saudara beda ayah dari Raden Patah – jika melihat daftar silsilah. Agak mustahil jika adalah saudara beda ayah dari Raden Patah (1455-1518) dari segi tahun saja sudah bisa dipatahkan oleh para sejarawan skeptis. Yang dimaksud sudah pasti adalah klaim bahwa Biangseng, karena putra-putranya dinikahkan secara endogamis oleh keturunan para kapitan di Madura, maka Biangseng masih keturunan dari ibu Raden Patah yang Putri Champa tetapi beda ayah dari Raden Patah. Sebab keturunan-keturunan yang lain menjadi kapitan Cina di lokasi masing-masing. Perlu diingat bahwa pada masa itu pernikahan antara kerabat dan sesama bangsawan merupakan hal yang lumrah untuk tujuan dakwah, politik dan ekonomi. Kemudian, Biangseng diletakkan sejajar persis berdampingan dengan K. Marina yang entah datang dari asal-usul mana. Apakah K adalah gelar Kyai atau Keng? Marina mungkin juga menarik karena ada nama “Ma” di situ. Tidak ada sebutan “K” untuk Biangseng meskipun di daftar segaris dengan K. Klasi dan K.Tigan.  Keturunan Biangseng yaitu K. Ranila dan K. Sabun adalah sezaman dengan keturunan K. Klasi, Ny. Siwa dan K. Tigan. Ini karena keturunan Biangseng ada yang menikah dengan keturunan ketiganya (endogami). Oleh sebab itu sebagian menyebut dirinya keturunan Biangseng, yang lain sebagai keturunan Keng Pangkeng.

Kemudian, muncul migrasi Muslim Cina berikutnya termasuk Lauw Pia Ngo, dan beberapa marga Cina yang kemungkinan merupakan muallaf dari peristiwa huru-hara Tionghoa Semarang abad ke-18 M, maupun imigran Cina akibat penindasan dinasti Manchu, seperti Tan, Goh, Kwee, dan Lim.  Ini adalah untuk mengakomodasi berbagai versi sejarah. Termasuk di antara mereka yang menjadi prajurit Pangeran Diponegoro, karena ini juga bagian dari sejarah lisan turun-temurun. Sejarah lisan mengenai adanya leluhur dari imigran dari Hainan (dimana terdapat konsentrasi besar Champa) juga menarik untuk diperhatikan. Untuk menyelamatkan diri mereka semua menggunakan nama Arab atau Jawa, dan untuk melindungi mereka, komunitas Muslim Cina yang terus bertambah di Sumenep melakukan kawin-mawin di antara mereka. Juga dengan begitu, maka memasukkan Lauw Pia Ngo sebagai bagian dari keluarga besar komunitas ini sebagai akibat dari hubungan kekerabatan dan perkawinan. Ini merupakan model budaya khas Jawa dan Madura. Karena sifat penulisan silsilah yang bilineal, maka tidak ditemukan nama marga bahkan hampir semua lelaki mendapat gelar Keng, terutama di batu nisan, yang perempuan bergelar Ny (Nyai?); dan jika memang mendapat gelar Raden pun tetap dicantumkan gelar Raden. Ada pula sebuah kebiasaan tradisi oral yang telah berakulturasi dengan sistem bilineal Jawa dan Madura, bahwa dalam komunitas ini masih menyebutkan “dari garis nenekmu bermarga Tan,” atau “dari pihak ibumu bermarga Goh”, misalnya, sehingga akibatnya cucu-cicitnya yang telah berbudaya Madura mengakui dirinya adalah keturunan marga tertentu, kadang dari dua marga yang sama, sehingga tidak selalu memegang hanya dari garis ayah saklek seperti sistem patrilineal khas Cina.

Adapun akibat diskriminasi VOC, maka komunitas Cina dilarang menikah dengan pribumi sehingga melakukan endogami (perkawinan antara kerabat); meskipun selalu ada pengecualian. Pertama kecuali dengan golongan ningrat Madura. Kedua, juga dengan peranakan Arab setempat. Sebagai bukti, dalam daftar silsilah terdapat banyak yang memakai gelar Raden (Zhang Wubin mungkin tidak tahu), entah ini gelar hadiah, juga gelar akibat perkawinan dan memang keturunan bangsawan bisa dilihat dari daftar silsilah. Dan, dari beberapa kerabat yang memiliki fitur wajah tidak hanya Cina, melainkan juga Melayu dan Arab. Ny. Siwa sendiri dituliskan menikah dengan H. Hasan. Siapakah H. Hasan? Apakah dia seorang pribumi, seorang peranakan Cina tetapi di luar kekerabatan Keng atau peranakan etnis lain?

Pengecualian ini tentu saja dapat terjadi karena pertama sebagai komunitas Muslim, untuk tujuan dakwah, maupun politik. Selain itu, perempuan-perempuan keturunan Cina Peranakan memiliki daya tarik karena kulit mereka yang terang, dan stereotipe mereka yang dikenal tekun, teliti, hemat dan suka hidup sederhana, merupakan kelebihan bagi komunitas pedagang. Adapun yang sebaliknya, pria-pria peranakan Cina akhirnya lebih suka menikahi sesama perempuan peranakan Cina selain karena stereotipe tersebut juga karena larangan tersebut. Dengan berakhirnya kolonialisme, generasi kelahiran tahun 1920an menikahi wanita-wanita pribumi biasa, bahkan juga putri bangsawan di Madura dan di Jawa karena mereka adalah saudagar-saudagar yang terbilang sejahtera dan berpendidikan. Salah satunya adalah kakek saya K. Abu Muthar yang menikah dengan R.A. Martiyah, keturunan Mangkunegaran III, di Solo.

Catatan lain adalah sebagai berikut:

Chen-Su-Fen-Salar-09Pertama, semua keturunan yang mendapat gelar “K” dan yang terkait dengannya  memang bangga menyebut sejarah keluarga mereka sebagai keturunan Cina atau Tionghoa, apalagi sebagian besar struktur wajah mereka adalah Cina. Akan tetapi, sebenarnya karena sistem bilineal, maka seluruh kerabat selalu dianggap sebagai keturunan Kengpangkeng maupun Biangseng, dan berhak menyandang gelar “K” khususnya di batu nisan mereka, baik yang dimaksud bermarga Keng maupun tidak. Ada sedikit kesalahan kecil untuk kasus Biangseng, dia tidak disebut Keng tapi Kyai, dan inilah sebabnya namanya tidak terdapat “K” dalam daftar silsilah, tetapi anak-anaknya mendapat gelar “K.”

Ada lagi hal yang menarik. Marga Keng setelah saya telusuri berasal dari nama marga yang diadopsi sejak masa Dinasti Shang (1766–1122 SM) dari suatu wilayah bernama Keng/Geng yang mana penduduknya konon berasal dari Asia Tengah. Salah satu kaisar Dinasti Shang bernama Keng Ting (Geng Ding) (1170-1147 SM). Selain itu bisa jadi Keng yang dimaksud bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai nama marga karena Keng dalam bahasa Hokkien berarti “Rumah” atau serupa dengan “Bayt” dalam bahasa Arab. Artinya Keng juga bisa menjadi bentuk penyebutan untuk menyatukan seluruh komunitas Muslim di tempat tersebut dalam satu kekerabatan akibat endogamy yang mereka lakukan. (Walau teori ini sangat dipaksakan).

Menteri Pertahanan Cina saat ini bernama Geng Huichang (lahir 1951) berasal dari Hebei dulu adalah bagian dari kekaisaran Zhou yang mengambil alih dinasti Shang.  Di Korea, marga Keng menjadi marga Kang. Korea merupakan bagian dari wilayah Dinasti Shang, dinasti kedua tertua setelah Dinasti Xia. Pada zaman Dinasti Ching ada seorang Jendral bernama Geng Jingzhong (Keng Chingchong), yang bergelar Pangeran Yang Mendamaikan Wilayah Selatan, cucu dari Geng Zhongming (Keng Chongming) pemimpin Militer pada masa peralihan Dinasti Ming kepada Dinasti Ching, Pada tahun 1670an Keng Chingchong memberontak kepada Dinasti Ching. Pada zaman Dinasti Han, Keng K’uei adalah jenderal yang dikirim untuk menaklukkan suku-suku nomad Xiongnu. Keng K’uei berasal dari wilayah Shaanxi, yang bersamaan dengan wilayah Gansu merupakan kampung halaman bersejarah bagi etnis Hui. Di kota Xi’an Shaanxi terdapat Masjid Agung yang sangat terkenal. Mausoleum terakota tentara dari dinasti Cin (dimana nama China diperoleh) yang terkenal itu berada di daerah ini. Pangkeng sendiri adalah nama yang ditemui digunakan beberapa orang China. Salah satu kaisar  legendaries dari Dinasti Shang juga bernama Pan Geng. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika Keng Pangkeng disebut sebagai (keturunan) pasukan Tatar dan sekaligus keturunan bangsawan China. Jika ia adalah keturunan pasukan Tatar sekaligus keturunan ningrat China, dan dinamai/digelari Pangkeng, tentu karena ada latarbelakang historisnya.

Kedua, dialek bahasa Cina apapun, telah hilang, kecuali panggilan nama-nama tertentu untuk bibi, paman, kakek dll, di mana itu pun terdapat pembagian, mana yang harus disebut dengan panggilan dalam bahasa Cina dan mana yang harus dalam bahasa Madura tutur madya (sopan). Sepengetahuan saya, keluarga besar yang lebih kuat jalur dari sebelah Raden, dengan ciri-ciri fisik yang lebih pribumi, biasanya menolak memanggil sebutan seperti Engkong. Dan, perbedaannya dari komunitas Cina Peranakan lain, komunitas di Madura karena begitu majmuknya asal-muasalnya maka ia bukan hanya terdiri dari komunitas pedagang an-sich, walaupun berdagang, mereka juga adalah para arsitek, insinyur, seniman, ulama, dan biasa mengirim anak-anak mereka menuntut ilmu di sekolah-sekolah kolonial sejak awal abad ke-20 – meskipun letaknya jauh dari hingar bingar pecinan Batavia, Semarang dan Surabaya. Keunikannya baru ditemukan oleh Ong Hock Ham pada paruh pertama karirnya sebagai sejarawan, tahun 1958.

Ketiga, dalam memahami sejarah berkabut Muslim Cina di Sumenep ini, tidaklah adil untuk dipahami dan dikenali dari sudut pandang sejarah modern saja. Tradisi lisan harus digali untuk dicocokkan dengan artefak-artefak, rekoleksi memori dalam arsitektur, peninggalan bahasa, budaya dan sejauh mana ia telah bercampuraduk, jalin-menjalin dengan sejarah setempat. Sejarah versi tutur ala Sufi juga tidak bisa saya kesampingkan sebab inilah yang telah membentuk Madura, karena tidak semua sejarah menurut kacamata materialistik dan positivistik dapat memberi jawaban yang memuaskan bagi saya. Selain itu, mimpi saya juga adalah pemetaan DNA anggota komunitas ini untuk mengukurnya dari segi biologis, sejauhmana komunitas ini mengandung unsur-unsur genetika Cina, Jawa, Arab, Mongolia, dan lain-lainnya. Untuk sementara saya memang lebih banyak mengandalkan daftar silsilah yang ada di tangan saya untuk memahami baik tradisi lisan dan sejarah yang terlanjur ditulis tentang komunitas ini. Dan, daftar ini masih harus terus saya cermati. Maka, teori saya dapat berubah sewaktu-waktu sekiranya saya ternyata salah membacanya. Apalagi karena saya belum sempat kembali melihat pemakaman keluarga.

(Gayatri Wedotami Muthari adalah alumni Jurusan Sejarah Unpad. Sekarang adalah Ketua Umum Komunitas Sekolah Agama ICRP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s