TEORI PERANG BUBAT : Bagian IV Akhir dan Kesimpulan

TEORI PERANG BUBAT

Bagian IV Akhir dan Kesimpulan

Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan pastinya penuh dengan cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan.

Pasukan tentara Majapahit akan bertempur dengan strategi-strategi jitu, sedangkan Sunda Galuh selain strategi, mereka juga mengandalkan jumlah besarnya. Walaupun pada akhirnya kalah dan pasti ada yang menyerah, pasukan majapahit pasti tidak akan menerima, soalnya ini mengadopsi dari kebijakan perang Genghis Khan, apa lagi posisi musuh menyerang duluan logikanya harus dibantai habis memang kalau kita ada dalam emosi perang seperti itu. Kejadian terbalik kalau pasukan Majapahit berada dalam posisi terdesak, pasti pasukan Majapahit gantian yang akan dibantai habis.

Tapi mungkin yang lebih mengena adalah sifat kepahlawanan dari pasukan tentara Sunda Galuh sendiri, yang tidak mengenal kata menyerah, mereka melakukan perang seperti model perang Puputan di Bali yaitu perang sampai habis-habisan, dengan semangat perang luar biasa yaitu sampai raga berkalang tanah alias gugur sebagai pahlawan perang, bunga bangsa yang semerbak harum mewangi.

Tentunya semangat kepahlawanan ini yang sangat membanggakan dan membuat siapa pun terharu, termasuk pihak lawan, dan tradisi perang biasanya punya tradisi penghormatan luar biasa bagi pihak lawannya yang gugur. Itulah gambaran raja Hayam Wuruk yang merasa terharu oleh kondisi perang semacam itu, melihat kepahlawanan dari seluruh prajurit yang gugur termasuk seluruh keluarga raja dan para bangsawan, deskrifsi alternatif dari kisah sentimentil yang disodorkan oleh kitab-kitab itu.

Beda halnya kalau raja Sunda Galuh melarikan diri dari peperangan, tentunya ini akan mencedrai nilai kepahlawanan itu. Perang sampai titik darah penghabisan ini akan menjadi kebanggan pula bagi seluruh masyarakat kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Kalah memang, tapi kalah secara terhormat dan membanggakan, tidak tercela, sungguh elok dan semestinya tidak ada alasan bagi mereka merasa terhina atau pun malu. Mereka akan dikenang sebagai para patriot pembela tanah airnya.

Kalau metoda perang sampai paripurna oleh pasukan Majapahit diterapkan, yang kemungkinan besar semua kerajaan-kerajaan di nusantara diperlakukan hal yang sama juga oleh cara-cara seperti ini yaitu perang total sampai tuntas, totalitas, bersih, dan diteror dengan cara yang serupa yaitu habisi dengan sempurna. Itu juga, sekali lagi kalau sudah dalam situasi perang, yaitu bagi mereka yang menyatakan tidak bersedia tunduk dan mengakui kerajaan Majapahit sebagai kerajaan yang memegang kendali atas mereka, sehingga dengan begitu itu pula dalam waktu singkat dan cepat, yang menyebabkan kerajaan-kerajaan di wilayah nusantara bisa disatukan dan ditaklukan.

Apa yang dilakukan raja Sunda Galuh bersama pasukan tentaranya adalah hal wajar dan mencirikan para kesatria sejati, karena mereka mencoba mempertahankan diri kerajaannya dengan melakukan penyerangan duluan, teori serangan dadakan, daripada mereka diserang duluan, tapi salah perhitungan dan tidak didukung atau dibarengi dengan pengalaman perang pasukan yang sepadan.

Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang Banginda Maharaja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut kerajaan menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani, mengadapi resiko kematian tak bersisa sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut.

Gajah Mada terkenal mempunyai pasukan elit intelejen yang bernama Bayangkara, dalam kitab Pararaton, yang telah telatih dan terdidik mendekati sempurna, informasi penyerangan kerajaan Sunda Galuh seperti ini itu pasti akan sudah mereka terima sebelumnya dan sudah pasti dipersiapkan antisifasinya, walaupun dengan sumber daya parjurit seadanya, tidak utuh.

Mahapatih Gajah mada, raja Hayam Wuruk dan pasukan militernya harus bekerja keras dan dengan berbagai strategi yang brilian untuk menghadapi jumlah musuh yg begitu besar, walaupun kemenangan diraih tapi jumlah pasukan yang selamat dipihak Majapahit sendiri mungkin hanya tinggal beberapa ribu atau puluh ribu orang saja pastinya, sangat berkurang jauh.

Setelah perang Bubat, pasukan Kerajaan Majapahit tidak memobilisasi pasukan besar ke pusat kerajaan Sunda Galuh setelah kemenangan itu, itu dikarenakan secara hitung-hitungan, kerajaan Sunda Galuh bukan lagi kekuatan yang bisa menghadang dimasa yang akan datang dan mereka juga perlu waktu untuk memulihkan kondisi akibat yang ditimbulkan oleh perang besar tersebut.

Kitab Kidung Sunda menyatakan Gajah Mada moksa (menghilang ditelan bumi dengan cara-cara mistis, gaib) setelah kejadian perang Bubat, tetapi pernyataan lain dalam Negara Kertagama tentang akhir hayat Gajah Mada yaitu karena usianya sudah uzhur, usia lanjut. Sudah waktunya Gajah Mada posisinya digantikan orang lain, dan menikmati masa-masa tua, dan dalam diri Gajah Mada sendiri sudah merasa cukup, apa yang dia usahakan yang terakhir dengan mengalahkan pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh artinya seluruh nusantara dapat ditaklukan, seungguh merupakan perjalanan penaklukan yang sempurna.

Mahapatih Gajah Mada berusia 71 tahun ketika selesai menjabat sebagai Mahapatih di kerajaan Majapahit, dari tahun 1313 M semenjak dia menjabat patih di kerajaan Kediri, bawahan kerajaan Majapahit sampai dengan tahun 1364 M, terhitung 51 tahun masa menjabatnya, ditambah dia sudah menjabat prajurit senior sebagai pemimpin pasukan Bayangkara, asumsi katakanlah 25 tahun berarti kisaran usianya sekitar 76 tahun, usia yang wajar sekiranya Gajah Mada tutup usia, atau Gajah Mada dengan umur seperti sudah menjadi manusia lanjut usia (red – aki-aki rempong), wajar seandainya mengambil pensiun dan menikmati hidup, apalagi cita-cita dan pengabdian besarnya sudah dirasa cukup.

Hayam Wuruk kalau merujuk tahun perang Bubat dari kitab Pararaton yaitu tahun 1357 M, maka disesuaikan dengan masa menjabat Sri Rajasanegara alias Hayam Wuruk yang lahir 1334 M dan dinobatkan menjadi raja dari tahun 1350 sampai dengan tahun 1389 M. Dihitung dari tahun kelahiran maka usia Hayam Wuruk ketika perang Bubat adalah 23 tahun dan usia seperti itu untuk seorang raja tentunya Hayam Wuruk sudah mempunyai pramesuri.

Teori rencana pernikahan putri kerajaan Sunda Galuh, Dyah Pitaloka, kayanya mubazhir, karena Sang Baginda Maharaja Linggabuana raja Sunda Galuh pasti tidak akan mau dan menyetujui anaknya menjadi selir, alhasil tidak menurunkan ahli waris kerajaan Majapahit, sebagai putera mahkota.

Cerita perang Bubat dalam artikel ini, berbeda dengan kondisi cerita-cerita yang beredar secara umum. Perang antara rombongan para pengantar calon penganten puteri dari kerajaan Sunda Galuh untuk raja Majapahit, Hayam Wuruk. Ini hanyalah analisa atas keberadaan kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton yang dianggap sebagai referensi untuk kejadian atau peristiwa perang Bubat.

Kitab Kidung Sunda itu sendiri, seperti halnya kitab Pararaton, Kidung Sundayana dan Wangsekerta harus dipastikan ke absyahannya terlebih dahulu, kebenaran dari kandungan ceritanya. Soalnya ini masalah sejarah, jangan hanya terjebak dan terpaku kepada cerita sepihak anak manusia, sekelompok orang atau pihak tertentu yang punya kepentingan tidak baik bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Resikonya, untuk jalan sejarah selanjutnya, cerita yang masih diragukan kebenarannya itu malah dianggap sebagai kebenaran umum, artinya kita akan salah kaprah. Riset-riset sejarah dari pemerintah Indonesia sendirilah yang harusnya bertanggung jawab meluruskan kebenaran sejarah ini, mungkin dengan membentuk Dewan atau Mahkamah Sejarah Nasional, wadah untuk menjustifikasi kebenaran sejarah bangsa Indonesia, walaupun parakteknya tidaklah akan mudah, tetapi tidak ada salahnya dicoba dibentuk.

Apa yang penulis ceritakan, hanya berdasar asumi yaitu jika perang itu benar-benar terjadi, silakan masing-masing pembaca yang budiman untuk menganalisa sendiri kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton. Logika-logika dan kondisi-kondisi realistiklah, yang menjadi dasar bagi si penulis mengajukan topik ini.

Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas prameswari dan puteri raja Sunda Galuh yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka, bahkan nama raja Sunda Galuh pun pada waktu itu juga tidak disebut. Logikanya orang yang mengarang kitab (buku) Kidung Sunda adalah orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri, atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnya. Nama puteri Citraresmi alias Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di kitab Pararaton, kitab yang dianggap sementara benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya sebagian isinya dalam kitab Pararaton ini juga masih banyak terdapat keanehan-keanehan dan kebenarnya sama-sama harus diteliti, dibuktikan dan diuji lagi bagian-bagian yang mengandung fakta sejarahnya.

Akhir kata, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi alias Ken Arok, Sri Kertanegara, Mahapatih Gajah Mada dan Sri Rajasanegara alias Hayam Wuruk adalah para penganut pola dan metoda Jenghis khan, Sang penakluk dalam menjalankan ekspansi kekuasaannya, yang diterapkan sesuai kehidupan ditataran tanah Jawa dan nusantara pada pencapaian lebih jauh.

Kitab Negara Kertagama juga menggambarkan perang antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan di Bali dengan akhir skor 1-0, artinya seluruh tentara kerajaan Bali pada waktu itu terbantai habis. Inilah bukti diantaranya bahwa mereka menganut pola Jenghis Khan.

Masalah perang Bubat, bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan karena justifikasi sejarah belum ada yang meyakinkan, masih memperebutkan pepesan kosong, tidak ada hasilnya, tetapi kalau itupun benar terjadi, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Kesimpulan penulis akan gugur dengan sendirinya jika terdapat bukti-bukti yang syah bahwa memang perang Bubat ini terjadi.

Sekiranya hal ini terjadi, semoga semua pihak harus lapang dada menerima sesuatu yang terjadi dikehidupan masa lampau umat manusia, karena itulah jalan dan taqdir ILLAHI.

Salam Damai Negeriku Salam Sejahtera Nusantaraku

Wassalam
penulis

Referensi :

  1. Http://www.kalangsunda.net/
  2. Wikipedia Indonesia, Kidung Sunda Versi bhs, SundaKidung Sunda Versi bhs, Indonesia
  3. Genghis Khan, Sang Penakluk, Sam Djang
  4. Genghis Khan, Badai Tengah Padang, Sam Djang
  5. Gajah Mada Seri I,II,III,IV, Langit Kresna Heriadi
  6.  Manusia-manusia paling misterius di Indonesia, Anton WP
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s