Jangan Memelihara Dendam kepada Alm. Soeharto

Indonesia Garuda

Alhamdulillah, akhirnya hari ini saya berkesempatan untuk bisa kembali menulis opini saya untuk hal yang saya anggap perlu, walau mungkin isu nya sudah lama muncul di ruang publik.

Beberapa pekan lalu, saat saya masih berada di luar kota, ramai kita mendengar wacana untuk mengganti nama  jalan di sekitar wilayah Istana Kepresidenan dengan nama Soekarno, Hatta dan Soeharto. Semuanya mantan Presiden dan wakil Presiden.

Sukarno Hatta SuhartoYang menarik, sebagian orang menolak wacana tersebut, khususnya apabila nama Soeharto di pakai untuk nama jalan utama. Alasan utama mereka adalah karena Soeharto selama ber kuasa tidak baik, tangannya banyak ber lumur darah, korup, tidak demokratis, otoriter dan hal lain yang negatif.  Mereka yang menolak, menutup mata dan hatinya terhadap sisi positif (baca; prestasi) yang pasti ada pada diri Soeharto sebagai Presiden RI  selama 32 tahun.

Lanjutkan membaca “Jangan Memelihara Dendam kepada Alm. Soeharto”

Kisah Habib Munzir mimpi dijemput Nabi Muhammad di usia 40 tahun

15375_535801493163473_62720499_n
Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa atau lebih dikenal dengan Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa meninggal di RSCM pada Minggu (15/9) kemarin sekitar pukul 15.30 WIB. Rencananya jenazah Habib Munzir akan dimakamkan di pemakaman Habib Kuncung, Kalibata, Jakarta Selatan.

Belum diketahui secara pasti penyebab Habib Munzir meninggal dunia. Hingga kini pihak keluarga belum memberikan penjelasan tentang sakit yang diderita habib kelahiran Cianjur itu.

Namun jauh sebelum meninggal, Habib Munzir pernah menulis dalam blognya tentang mimpinya yang akan ‘dijemput’ oleh Nabi Muhammad SAW saat berusia 40 tahun. Seperti diketahui, Habib Munzir lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 23 Februari 1973. Itu artinya umur Habib Munzir genap 40 tahun 7 bulan kurang. Mungkinkan mimpi tersebut sebuah pertanda?

Fakta dan Data Syi’ah di Indonesia

Oleh: Ustadz Farid Achmad Okbah, MA

Pendahuluan

Setelah meletusnya revolusi Iran pada tahun 1979 M, paham Syi’ah Imamiyah (Syi’ah Itsna Asyariyah) mulai masuk ke Indonesia. Diantara tokoh yang terpengaruh dengan paham Syi’ah adalah Husain al-Habsy, Direktur Pesantren Islam YAPI Bangil. Al-Habsy kemudian aktif menyebarkan ideologi Syi’ah dengan kemasan apik dan berslogan persatuan kaum muslimin.

Pada tahun 1980-an, al-Habsy mengirim sejumlah santrinya untuk belajar di Hauzah Ilmiyah di Qum, Iran. Sepulang dari Qum, para santri kemudian menyebarkan ajaran Syi’ah melalui sejumlah kegiatan, baik di bidang politik, pendidikan, media, sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Dalam bidang politik, mereka masuk ke partai-partai. Dalam bidang pendidikan mereka mendirikan sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi. Dibidang media mereka mendirikan koran, majalah, televisi, penerbitan buku, selebaran, dsb. Dalam bidang sosial, mereka mempraktekkan nikah mut’ah. Dalam bidang ekonomi mereka membuka toko-toko, membeli angkutan-angkutan umum, dan aktif dalam dunia perdagangan secara umum. Dalam bidang medis, mereka membangun rumah sakit dan klinik pengobatan. Pada tahun 1993, jati diri al-Habsy sebagai orang Syi’ah terkuak saat dia mengirimkan laporan kegiatan Syi’ah Indonesia ke Ayatullah di Iran dan saat itu 13 guru yang bermadzhab Ahlussunnah keluar dari pesantrennya.

Inilah gerakan Syi’ah, begitu terorgaisir dengan rapi. Adapun reaksi Ahlussunnah masih bersifat tidak konsisten. Jika ada keributan mereka bergerak, jika tidak ada, mereka hanya diam dan pasif, padahal Syi’ah semakin lama semakin berkembang.

Lanjutkan membaca “Fakta dan Data Syi’ah di Indonesia”