Dalam acara ILC di TV One tadi malam, Sukmawati Soekarnoputri menyebutkan bahwa “Sukarno dan korban G30S adalah korban dari kudeta Soeharto”. Hal ini ingin menegaskan bahwa Soeharto lah dalang Gerakan 30 September (G 30 S)—disebut juga Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau juga Gestok (Gerakan Satu Oktober); karena peristiwa itu sebenarnya terjadi 1 Oktober 1965 dini hari. Pernyataan Sukmawati itu berlawanan dengan versi resmi Orde Baru bahwa dalang G30S adalah PKI.

Namun kalau kita membaca tafsir atas peristiwa G30S, “Soeharto adalah dalang G30S” atau “PKI dalang G30S” merupakan salah satu kemungkinan skenario yang semuanya hanyalah kemungkinan-kemungkinan tergantung kepentingan si pembaca. Agar anda tidak bingung saya mengajak anda untuk membaca beberapa versi kemungkinan adanya dalang itu, sehingga tidak mudah serta merta saling tuding.
Enam Versi Skenario Dalang Gerakan 30 September.

Dalam buku “Palu Arit di Ladang Tebu” yang berasal dari disertasi Hermawan Sulistyo disebutkan paling tidak ada lima (5) skenario terkait G 30 S dan setelah buku John Roosa keluar “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto”, maka menurut Asvi Warman Adam bisa ditambahkan jadi enam (6) skenario.

Saya petik dulu 5 skenario dalang G 30 S dari buku Hermawan Sulistiyo, setelah itu dari buku John Roosa sebagaimana pendapat Asvi yang memberikan penilaian atas enam versi itu.

Pertama, PKI adalah dalang G 30 S. Inilah versi yang selama ini dikenal, khususnya pada era Orde Baru. Berdasarkan sejarah pemberontakan PKI sejak 1948, versi ini tidak seluruhnya salah, bahwa PKI secara sistematis telah membangun kekuatannya. Versi ini juga menyebutkan PKI bukan hanya berhasil menginfiltrasi dan mengindoktrinisasi kekuatan militer pro-Komunis, tetapi juga berhasil mengarahkan mereka, khususnya para prajurit nonperwira untuk memberontak terhadap kekuasaan yang sah. Hermawan mengutip pendapat studi Harold Crouch yang katanya dengan cermat menunjukkan bahwa versi tentara ini tidak seluruhnya salah. Paling tidak beberapa pemimpin PKI terlibat dalam Peristiwa G 30 S. Hal ini diakui oleh Sudisman, satu-satunya tokoh dari lima pemimpin PKI yang diadili.

“Saya tidak bermaksud menyangkal bahwa beberapa pemimpin PKI terlibat dalam G 30 S. Sama sekali bukan itu maksud saya. Seperti yang saya jelaskan, ada beberapa tokoh penting PKI, termasuk saya sendiri, terlibat Gerakan 30 September.”

Kedua, masalah internal Angkatan Darat. Versi ini berlawanan dengan versi pertama. Versi ini bersumber dari PKI, Oentoeng mengumumkan pada tanggal 2 Oktober di surat kabar PKI, Harian Rakjat menyatakan bahwa “peristiwa itu murni sebagai masalah internal AD”. Selama ini versi ini mendapat dukungan karena dua alasan. (1) mereka yang diculik dan para penculiknya adalah personel AD. (2) tidak masuk akal bila PKI berjudi dengan menyingkirkan para jenderal melalui jalur kekerasan, sementara PKI waktu itu sedang menikmati perkembangan dan kekuasaan yang sangat menguntungkan.

Namun Angkatan Darat memberikan bantahan atas versi ini dengan alasan (1) Letkol Oentoeng perwira yang menjadi komandan G 30 S, juga berjuang di pihak PKI saat Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. (2) Brigjen M.S. Supardjo perwira yang dikenal sebagai simpatisan komunis dan saat peristiwa G 30 S meletus menjabat Komandan Kostrad di Kalimantan Barat. Intinya perwira dan tentara AD yang memberontak itu karena terlibat PKI bukan karena ada masalah internal, atau persaingan di internal di Angkatan Darat. Pendukung versi ini adalah Cornell Paper yang kelemahannya telah dikritik secara meyakinkan oleh Harold Crouch.

Menurut Asvi Warman Adam juga, “analisis ini lemah karena Untung dan Latief memang dari Kodam Diponegoro, tapi tidak demikian halnya dengan Brigadir Jenderal Supardjo (Siliwangi) dan Mayor Udara Sujono. Demikian pula, mengatakan ini semata-mata persoalan “intern Angkatan Darat” tidak tepat karena unsur PKI, seperti Sjam dan Pono, juga terlibat.”

Ketiga, Soekarno yang bertanggung jawab. Versi ini berdasarkan laporan interogasi yang mendalam terhadap Kolonel Bambang Widjanarko, ajudan Soekarno, Anthony Dake mengajukan tesis bahwa Presiden Soekarno sendiri yang menyusun skenario Peristiwa Gestapu. Kedutaan AS juga percaya versi ini. Namun Harold Crouch meragukan versi ini, ia menilai tesis ini lemah sebab menyandarkan “pada keterangan seorang saksi yang belum dipastikan kebenarannya, yang punya segudang alasan untuk bekerjasama dengan pemeriksanya…”

Ketika gerakan yang dipimpin Oentoeng mulai beraksi dan malam itu Soekarno diberitahu melalui surat oleh Oentoeng, Soekarno tampaknya memutuskan untuk tidak melibatkan diri sehingga situasi menjadi jelas. Jadi, Soekarno tidak terlalu menyadari keterlibatannya.

Namun menurut Asvi Warman Adam dalam “Versi Mutakhir G30S” dalam edisi khusus TEMPO terkait Sjam, 2008, belakangan diketahui bahwa pengakuan Bambang Widjanarko “hanyalah cara untuk mencegah bangkitnya pendukung Soekarno pada Pemilihan Umum tahun 1971. Diketahui pula Bambang Widjanarko akhirnya mengakui sendiri bahwa saat itu ia dipaksa bersaksi demikian. Juga kalau benar bahwa Presiden Soekarno yang memerintahkan penculikan 7 perwira itu, mengapa malam 1 Oktober 1965 beliau tidak langsung menuju Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma tempat dikumpulkannya para jenderal yang diculik? Mengapa harus berputar-putar keliling Jakarta seperti orang kebingungan?”

Maka, pembacaan yang dilakukan oleh Harold Crouch dan Asvi Warman Adam tadi menunjukkan tesis Anthony Dake bahwa Soekarno dalang G 30 S tidak kuat.

Keempat, Soeharto Dalang G 30 S. Ini versi yang disampaikan Sukmawati Soekarnoputri tadi malam. Hal ini berdasarkan fakta mencurigakan, sebagai Panglima Kostrad dan jenderal yang biasa mewakili Panglima AD, Soeharto adalah jenderal paling penting yang tidak tercantum namanya dalam daftar penculikan. Pada malam 30 September, Soeharto bertemu dengan Kolonel Latief, tokoh ketiga yang memimpin Gerakan 30 September. Informasi ini bersumber dari buku Arnold Brackman, jurnalis AS:

“Dua hari sebelum 30 September anak lelaki kami, yang umurnya 3 tahun, dapat celaka di rumah. Ia ketumpahan sup panas, dan kami dengan buru-buru perlu mengantarkannya ke rumah sakit. Banyak teman menjenguk anak saya di sana pada malam 30 September, dan saya juga berada di rumah sakit.

Lucu juga kalau diingat kembali. Saya ingat Kolonel Latief datang ke rumah sakit malam itu untuk menanyakan kesehatan anak saya. Saya terharu atas keprihatinannya. Ternyata kemudian Latief adalah orang terkemuka dalam

kejadian yang sesudahnya. Kini menjadi jelas bagi saya malam itu Latief ke rumah sakit bukan untuk menjenguk anak saya, melainkan sebenarnya UNTUK MENCEK SAYA. Ia hendak tahu betapa genting celaka anak saya dan ia dapat memastikan bahwa saya akan terlampau prihatin dengan keadaan anak saya.” (sumber)

Oktober 2015, TEMPO juga menuliskan laporan kedekatan Soeharto dengan Kolonel Oentoeng. Selain pengakuan dari Soebandrio, Menlu Kabinet Soekarno dan kedekatan masa lalu Soeharto dengan Letkol Oentoeng saat menjadi Panglima Divisi Diponegoro Semarang. Informasi ini bisa dibaca melalui link ini.

Inilah dua alasan mengapa Soeharto dituding dalang G 30 S, dari hasil wawancara Arnold Brackman dan pengakuan Soebandrio.

Namun menurut Asvi Warman Adam, “Soeharto tidaklah “sejenius” itu, bukan tipe orang yang merancang perebutan kekuasaan secara sistematis. Tapi, karena sudah tahu sebelumnya, ia menjadi orang yang paling siap.”

Kelima, Jaringan Intelejen dan CIA. Versi ini menyatakan bahwa jaringan intelejen AD sendiri yang memprakarsai Gestapu, baik atas usaha sendiri maupun atas bantuan agen-agen asing, khususnya AS dan Cina. Menurut Asvi, “Amerika Serikat tidak ikut campur pada 30 September dan 1 Oktober 1965 walaupun berbagai dokumen menyebutkan keterlibatan mereka sebelum dan sesudah peristiwa. Bagi Amerika, jatuhnya Indonesia ke tangan komunis artinya kiamat. Keterlibatan Amerika ini sudah disinyalir Bung Karno dalam pidato Nawaksara pada 1967, yang menyebut adanya “subversi Nekolim”. dan Asvi pun perpendapat soal penyebab G30S ini sebagaimana pandangan Soekarno pada tahun 1967, “sudah lebih maju dalam melihat peristiwa itu, yakni sebagai pertemuan tiga sebab: 1) keblingernya pemimpin PKI, 2) subversi Nekolim, 3) adanya oknum yang tidak bertanggung jawab.”

Keenam, yang menurut Asvi Warman Adam, yang disebutkan sebagai “versi mutakhir G30S dikemukakan dalam buku John Roosa (Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, 2008) dengan menyebutkan peran sentral Sjam yang sangat menentukan. Kelemahan utama G30S adalah tidak adanya satu komando. Terdapat dua kelompok pemimpin, yakni kalangan militer (Untung, Latief, dan Sujono) serta pihak Biro Chusus PKI (Sjam, Pono, dengan Aidit di latar belakang). Sjam memegang peran sentral karena ia menjadi penghubung di antara kedua pihak ini. Namun, ketika upaya ini tidak mendapat dukungan dari Presiden Soekarno, bahkan diminta untuk dihentikan, kebingungan terjadi, kedua kelompok ini terpecah. Kalangan militer ingin mematuhi, sedangkan Biro Chusus tetap melanjutkan. Ini dapat menjelaskan mengapa antara pengumuman pertama, kedua, dan ketiga terdapat selang waktu sampai lima jam. Pada pagi hari mereka mengumumkan bahwa Presiden dalam keadaan selamat. Adapun pengumuman berikutnya, siang hari, sudah berubah drastis: pembentukan Dewan Revolusi dan pembubaran kabinet.”

Tapi pertanyaannya adalah, apakah hanya cukup Sjam saja yang memikul tanggung jawab atas peristiwa Gerakan 30 September itu?

Demikianlah enam versi dalang Gerakan 30 September 1965, banyaknya versi ini menunjukkan banyaknya bacaan sekaligus bias dalam pembacaannya. Manakah versi yang paling benar? Ini tugas kita untuk terus membaca dan menulis kembali sejarah, yang paling penting, jangan berhenti belajar dan berhentilah fanatik pada satu pendapat saja.

Mohamad Guntur Romli

Iklan

Allah  Subhaanahu wata’ala berfirman, yang artinya;

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan dengan sedikit ketenaran, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sayanglah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, “(QS Al Baqarah: 155).

Rasa takut akan bisa jatuh cinta dan juga bisa hal yang membuat seseorang menjadi terpuruk. Sejatinya rasa takut mati adalah agar agar manusia selalu mengingat Allah.
Bila perasaan takut terhadap kematian mampu menjadi pemacu untuk lebih baik dan menjadi energi untuk menjauhkan diri dari kemaksiatan. Banyak yang memanggil mati adalah suatu kebaikan, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhumeriwayatkan;

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Perbanyaklah ingat pemutus kelezatan “, yaitu kematian”. (HR Tirmidzi).

Hadits ini saya-isyaratkan masuk dalam penyikapan tertentu takut mati sama-sama hikmah. Namun takut mati menjadi sangat buruk tidak mau peduli, tidak ada semangat hidup sampai putus asa.

Takut mati seperti hal buruk itu harus disembuhkan dengan cara memupuk kesadaran bahwamati itu adalah perkara yang pasti terjadi, baik cepat atau lambat. Sebaiknya kita tidak perlu membuat perasaan terbagi, sebab mati pasti akan kita alami.

Yang harus kita takuti, adalah tasimana jika Allah sampai tidak mencintai kita.

Isi show ]

1. Mengingat Kematian

senantiasa berintropeksi diri dan bertaubat kepada Allah SWT

Apakah setiap saat kita senantiasa akan mati? Semua yang bernyawa pasti akan mati dan hidup terus berjalan, secara sadar atau tidak bisa lagi akan mendekati menghampiri. Harus kita sadari yang sebenarnya hari-hari yang kita lewati semakin mendekatkan kita kepada kematian.

Dalam surah Al Ankabut Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, yang berarti;

“Tiap-tiap yang berjiwa akan menemukan mati. Kemudian kami sampaikan kepada Kami. “(QS. Al ‘Ankabut: 57)

Rasa takut akan datangnya kematian adalah pertanda kita juga takut kepada Allah  Subhaanahu wata’ala , apa yang sudah jadi pertanyaan sudah siap bekal dunia atau pertanggung jawaban atas semua amal dunia kita?

Rasa takut akan mati sejatinya sebagai pengingat atas ketaqwaan kita, setiap manusia memang memiliki tingkat yang berbeda. Tentunya seorang hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya dan dicintai-Nya, ia akan merasa tenang dan siap untuk mati kapanpun menjemputnya.

Seorang yang sudah sangat dekat dengan Allah pasti memiliki kedamaian di hatinya, rindu akan berjumpa dengan kekasih hati yang hakiki, yaitu Allah Subhaanahu wata’ala .

Namun berbeda jika seorang hamba yang masih merasa belum maksimal dalam beribadah, masih sering melakukan kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Untuk itu, teringat akan mati sejatinya harus kita syukuri, dan semaksimal mungkin kita mendekatkan diri kepada Allah agar lebih dicintai-Nya.

Mencari ketenangan hidup di dunia dan keselamatan akhirat dengan bertaqwa kepada Allah Subhaanahu wata’ala , jalankan semua perintah-Nya dan menjahui apa yang menjadi larangan-Nya.

Di dalam syariat sudah di ajarkan tuntunan hidup yang hakiki yaitu Al-Quran dan Sunah. Al Quran adalah petunjuk jalan yang lurus bagi manusia, agar manusia selalu mengingat Tuhannya. Salah satu penenang jiwa adalah petunjuk Al-Quran dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Menjalankan kewajiban dan semua perintah-perintah Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah adalah wujud dari kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wata’ala , wahyu manifestasi dari iman. Hakikinya, yang paling utama dari iman adalah dari hati yang sebenar-benarnya.

2. Menyikapi Kematian dalam Syariat

Cara mengatasi rasa takut mati menurut islam

Bersyukurlah jika kita masih teringat akan mati, karena kematian itu adalah pasti. Jangan membuat rasa takutmu menjadi berlebih dan membuatmu putus asa. Menyikapi kematian adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wata’ala , takutlah mati dan jadikan tenang.

Seorang hamba Allah harus selalu mengingatnya sedang melakukan nya bersama kematian, ia sedang berjalan menuju kematian, sedang dia sedang menunggu kematian itu entah datang pagi atau petang. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,

“Sesungguhnya kematian terus mendekat kita dan dunia terus kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal. “

Sesungguhnya, nikmat yang paling nikmat adalah menyukuri nikmat sekecil apapun yang kita rasakan. Nikmat sehat, nikmat waktu luang dan yang paling utama adalah nikmat Iman. Agar hati menjadi lebih tenang, banyaklah berdoa dan memohon ampun kepada Allah Subhaanahu wata’ala.

Berdoa untuk keselamatan duniamu dan akhiratmu, ada amalan yang memang khusus kita niatkan untuk akhirat dan juga ada untuk dunia.

Istiqomah Menjaga Amal Sholeh

Bersikaplah tawadhu

Sebab yang membuat seseorang selalu dihantui akan rasa takut akan kematian berlebih yang bisa membuat seseorang terpuruk karena penuh hati dari sang penerang hati, Allah  Subhaanahu wata’ala. Agar rasa takut akan mati itu bisa menghilang dan berubah menjadi rasa takut yang nikmat dan menjadikan jiwa tenang adalah taqwa.

Sebab seorang hamba dicintai Allah Subhaanahu wata’ala adalah karena katqwaan seorang hamba, ketaqwaan itu bisa dilakukan dengan menjaga amalan-amalan sholeh yang bisa dituju hati, nurani dan seluruh jiwa raga dekat dengan Allah  Subhaanahu wata’ala.

Firman Allah Subhaanahu wata’ala, yang berarti;

“Dan agar surga yang dikaruniakan untuk kalian, karena perbuatan (amal sholeh) yang kalian dulu pernah kerjakan” (QS. Az-Zukhruf: 72).

Agar kita mendapatkan rahmat dan cinta kasih Allah Subhaanahu wata’ala , bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Ingatlah, tujuan yang utama adalah amal yang sebanyak-banyaknya, tapi adalah amalan yang sebenar-benarnya.

Amalan yang sedikit dan benar karena Allah Ta’ala akan lebih bisa mendekatkan seorang hamba kepada Allah daripada amalan yang banyak dilakukan namun belum benar. Jika kita merasa amalan kita belum benar, yang paling penting bukan beramal sebanyak-banyaknya tapi memperbaiki amalnya, yaitu hanya untuk Allah saja.

Seperti hadits nabi Muhammad Sallallahu `alaihi wa sallam , dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu tahan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah “(HR Muslim no 2817).

Dengan beramalah sholeh dengan benar, insya Allah seorang hamba akan mencapai taqwa yang benar yang rahmat dari Allah Subhaanahu wata’ala , jadi beramal sholeh dengan niat yang benar-benar penting.

Amalan terbaik yang bisa dilakukan adalah menjaga sholat fardhu (5 waktu) dan menambah amalan-amalan sunah yang bisa kita jadikan amalan utama bagi kita amalkan.

Menjaga Sholat Fardhu (5 Waktu)

Menjaga sholat fardhu

Sholat 5 waktu adalah amalan wajib yang tidak boleh ditinggalkan, sholat tidak boleh kita niatkan hanya sebatas penggugur kewajiban. Sebaiknya niatkan sholat sebagai bentuk rasa syukur kita sebagai seorang hamba kepada Allah  Subhaanahu wata’ala , agar senantiasa kita bersemangat dalam melaksanankan sholat.

Sholat fardhu bisa menyelamatkan manusia dari perbuatan keji dan munkar, sepert firman Allah Subhaanahu wata’ala, yang berarti;

Bacalah Al-Kitab (al-Qur’an) yang telah diwahyukan pembantu (Muhammad) dan laksanakan shalat. Sesungguhnya shalat itu ternyata dari perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) harap Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Ankabut: 45)

Dengan melakukan sholat secara benar dan hak, maka sesungguhnya hati kita akan senantisa takut untuk melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, karena setiap saat kita selalu mengat Allah.

Jika ada seseorang yang sholatnya rajin, tapi dia masih sering menyakiti orang lain, masih suka rokok maksiat. Berarti ada yang keliru dengan sholatnya, sholat yang seseorang melakukan itu bukan untuk Allah Subhaanahu wata’ala .

Sholat adalah amalan utama, dan amalan pertama yang akan di hizab di hari kiamat nanti, dan sholat adalah penentu dari semua amal perbuatan hidup didunia.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu , dia mengatakan bahwa Nabi  Shallallahu’ alaihi wa sallambersabda,

“Sesungguhnya yang pertama kali di hisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Bila shalatnya baik maka ia sudah berbahagia dan sukses, tapi sela shalatnya jelek maka ia telah celaka dan merugi. Dan tidak lagi dalam melakukan shalat wajib maka Allah akan mengatakan, ‘apakah hamba-hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Lantas disempurnakanlah yang kurang dari shalat wajib itu. Kemudian yang demikian itu berlaku pula untuk seluruh amalnya. “[HR. At-Tirmidzi, No. 413]

Amalan Istimewa yang Menjadikan Allah Bangga

Amalan istimewa yang saya maksud adalah amalan yang bisa kita lakukan secara terus menerus sampai mati. Amalan yang meringankan adalah amalan yang agak sedikit dan tidak memberatkan, amalan yang sedikit ini akan mengungguli amalan yang dikerjakan dalam jumlah banyak namun hanya sesekali.

Seperti contohnya membaca Al-Quran, dalam sekejap berapa al-Quran bisa menyelesaikan 1 juz, namun hanya beberapa kejadian misalnya. Masih lebih baik membaca 1 lembar atau 1 ayat namun dilakukan secara istiqomah sampai akhir hayat.

Meski begitu, bukan berarti kita selamnya mengamalkan amal dengan porsi yang sedikit secara terus menerus. Kita tetap dianjurkan beramal secara istiqomah dan juga memperbanyaknya saat sudah istiqomah, agar semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Amal sholeh yang insya Allah lebih tidak memberatkan untuk diamalkan misalnya, berbakti kepada ibu dan ayah, menyantuni anak yatim, meringankan fakir miskin, istiqomah baca al quran, menjaga sholat dhuha, dan masih banyak amalan-amalan lain yang banyak memiliki keutamaan. Sebaik-amal amal adalah amal yang dilakukan secara istiqomah.

Seperti renungan kita semua, selalu saja ada syaiton yang selalu menggaggu dan membisikan kita agar tertinggal amalan-amalan kebaikan. Sayiton pulalah yang membuat semua kebaikan itu menjadi terasa berat, untuk itu jangan pernah lelah untuk selalu memohon ampun dan resmi kepada Allah dari gangguan syaiton.

Berdoa, agar selalu bisa istiqomah dan berdoa agar amal-amal kebaikan itu bisa menjadi bagian hidup, menjadi suatu kebutuhan yang bila mana tertinggal hidup terasa tidak lengkap. Sungguh indahnya jika suatu amal kebaikan menyatu dalam jiwa.

3. Hikmah Selalu Mengingat Kematian

Hikmah mengingat kematian

Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal. Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah seperti berikut;

“Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita:” Saya pernah bersama Rasulullah Shallallahu’ alaihi wasallam , lalu datang seorang pria dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya,

“Wahai Rasulullah, orang berimanql yang paling murah?”, Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi;”Lalu orang berimanql yang paling berakal (cerdas)?”, Beliau menjawab;”Yang paling banyak inget dan paling baik gantinya setelah mati, merekalah yang berakal”.

Seorang hamba harus selalu ingat dia sedang membawa dirinya bersama kematian, sedang dia sedang berjalan menuju kematian, dan dia sedang menantikan kematian yang bisa menjemoutnya setiap saat, setiap waktu entah datang pagi or petang. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,

‘Sesungguhnya kematian terus mendekat kita, dan dunia terus mencintai kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal. ‘

Ungkapan Ali ini mengingatkan kita sebagai manusia kita sebagai manusia harus selalu siap siaga, selalu berintropeksi diri, memperbaharui taubat, dan harus mengetahui manusia sedang berhubungan dengan Allah Subhaanahu wata’ala.

Dalam surah Al Munafiqun Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, yang berarti;

“Dan Allah kali-kali tidak akan akan menangguhkan (kematian) seseorang yang telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. “[QS. Al Munafiqun: 11]

Coba kita renungkan itu banyak kita temui bayi yang baru saja terjaga didunia sudah di panggil Allah, paginya sehat sorenya sudah dipanggil Allah, dan ada juga seseorang yang punya sakit keras namun masih diberi nyawa oleh Allah Ta ‘ala, hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberi Nafas bagi kehidupan dan untuk mengambilnya.

Semua makhluk yang bernyawa akan hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan, Allah menjelaskan di dalam Al-Quran sebagai petunjuk untuk manusia terhadap kematian dalam ayat berikut ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya ini akan kamu bagikan, maka kamu akan diberikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah: 8)

Di antara hikmah dari mengingat-ingat kematian adalah:

  1. Mendorong diri untuk selalu siap menghadapi sebelum tiba waktunya
  2. Tidak menjadi manusia yang cinta dunia, terlalu cinta dunia adalah penyebab utama kegelisahan manusia
  3. Menjauhkan diri dari angan-angan dunia yang berlebihan
  4. Selalu beramal untuk akhirat dengan terus berusaha menjadi manusia yang baik dan taqwa
  5. Meringankan seorang hamba dalam
  6. Mencegah ketamakan terhadap nikmat duniawi
  7. Mendorong untuk bertaubat dan muhasabah dari kesalahan di masa lalu
  8. Memberi semangat untuk mendalami agama dan lebih terjaga dari hawa nafsu
  9. Melembutkan hati, punya sikap rendah hati ( tawadhu ‘ ), tidak sombong, dan berlaku zalim
  10. Menumbuhkan rasa toleransi, mudah memaafkan kesalahan dan kelemahan orang lain

Setelah seorang manusia terputuslah semua amal-amalnya di dunia, kecuali 3 perkara. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallambersabda,

“Jika seseorang dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu); Sedekah jariyah, ilmu yang di manfaatkan, atau doa anak yang shaleh “(HR Muslim no 1631)

Sedekah jariyah untuk kepentingan umat misalnya membangun masjid, membangun pesantren, ilmu yang digunakan untuk kebaikan yang sedang turun, juga doa yang sennatiasa di panjatkan dari anak-anak yang sholeh untuk orang tua tua yang sudah meninggal. Allah Maha Mulia atas segala sesuatu.

Tiada bekal yang akan kita bawa untuk menemani kematian kita, kecuali amalan-amalan kita semasa di dunia (entah itu isi dosa maupun pahala). Hanyalah amal yang menemani untuk dipertanggung jawabkan. Kematian akan sangat indah bagi seorang hamba yang dicintai Allah SWT.

Semoga artikel ini bisa menjadi cerah bagi kita semua, semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung dan dicintai Allah.

Wallahu ‘alam bissawab ,

Gus Hairon Fadli

3 Oktober 2016

Oleh : Parlindungan Sihombing

Pertanyaan KunciDefenisi Sistem PemiluUnsur-Unsur Sistem Pemilu? Besaran Daerah Pemilihan (dapil)? Lingkup dapil? Prinsif yang mendasari alokasi kursi? Jumlah kursi yang diperebutkan per Dapil? Peserta Pemilu dan Pola PencalonanModel PenyuaraanFormula Pemilihan dan Penetapan Calon Terpilih? Single-member constituency dan Multi-member constituency? Sistem daftar tertutup/sistem daftar terbuka? Rumus mayoritarian/pluralitas? Rumus proporsional (perwakilan berimbang)? Bilangan Pembagi Pemilih (BPP)? Macam-Macam Sebutan Sistem Pemilu? Sistem Pemilu Mayoritarian? Sistem Pemilu Proporsional? Sistem Pemilu Campuran (MMP)? Sistem Pemilu Proporsional Daftar Calon Tertutup? Sistem Pemilu Proporsional Daftar Calon Terbuka? Sistem pemilu preferensial (alternatif vote) dan non-preferensial? Sistem pemilu Single Non Transferable Vote (SNTV) dan Single Transferable Vote (STV)? Sistem pemilu Single-member constituency dan Multi-memberconstituency?

Ada banyak kerancuan dan ketidak-tepatan kita jumpai ketika berbicara mengenai sistem pemilu. Kebanyakan orang khususnya di Indonesia mengidentikkan sistem pemilu ke dalam dua pilihan antara sistem proporsional dan sistem distrik. Padahal sistem proporsional dan sistem distrik (yang benar adalah sistem mayoritarian) hanya menjelaskan salah satu aspek dari banyak aspek sistem pemilu.

Baca entri selengkapnya »

SHIRATUN NABI:

“SEBUAH PERENUNGAN TERHADAP
KETINGGIAN  AKHLAQ  RASULULLAH  SAW.”Untuk Menyegarkan Keimanan
Oleh : Muhaimin  Khairul Amin

“Sesungguhnya kamu dapati suri tauladan yang sebaik-baiknya dalam Pribadi Rasulullah, bagi orang-orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan hari kiamat dan yang banyak-banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Saudara-saudaraku yang mulia,

Tentu saudara-saudaraku yang mulia mengenal siapa Rasulullah Saw. dan memang harus mengenal beliau Saw. Ada pepatah yang mengatakan  kalau tak kenal maka tak sayang. Yang lebih penting lagi menurut penulis yang lemah ini, “kalau tak kenal, maka kenalilah !”

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Rasulullah Saw. adalah seorang nabi yang  kedatangannya telah dinubuwatkan oleh nabi-nabi dan kitab terdahulu. Kita baca di dalam Bible, Matius pasal I ayat 23 yang merupakan penggenapan dari nubuatan Yesaya Pasal 7 ayat 14, dimana disana dikabarkan akan adanya seorang perempuan muda yang akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan diberi nama ImmanuelImmanuelitulah yang dalam Matius diartikan ‘Allah bersama kita‘. Dan kita tahu bahwa perempuan muda yang dimaksud disini adalah Siti Aminah r.a. yakni ibundanya nabi Muhammad Saw.  yang menikah sewaktu masih muda, dan melahirkan Muhammad Saw. sewaktu muda dan meninggalnya pun sewaktu masih muda. Adapun nubuatan berkenaan dengan nama “Immanuel” yang berarti “Allah beserta kita“, ini telah terbukti ketika Nabi Saw. bersama Abu Bakar r.a. terkepung musuh di Gua Tsur, Tuhan tetap beserta mereka. Rasulullah Saw. bersabda kepada Abu bakar r.a. sebagaimana diwahyukan didalam Al-Qur’an surah At-taubah: 40 ” Laa Tahzan Innallaaha Ma’anaa” (Janganlah kau berduka cita wahai Abu Bakar ! Sesungguhnya Allah beserta kita). Dan ini bukanlah kejadian yang kebetulan, akan tetapi sebuah rencana Tuhan untuk menggenapi nubuatan “Immanuel”.

Baca entri selengkapnya »

Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani

Saat itu para ustadz menjelaskan beberapa fakta dan data dari kitab-kitab yang ditulis para pendeta Syiah. Antara lain syahadat orang Syiah, rukun Islam orang Syiah, rukun iman agama Syiah, Al Qurannya, sikap mereka kepada istri Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam, dan para sahabat hingga nikah mutah. Semuanya berbeda dengan ajaran agama Islam.

“Wah bahaya juga ya Syiah,” ujar salah seorang polisi yang sembari bertugas menjaga aksi, menyimak uraian seorang ustadz tentang nikah mut’ah.

Sekelumit gambaran ini menunjukkan mayoritas masyarakat Islam Indonesia khususnya, tidak mengetahui kesesatan dan bahaya Syiah. Bahkan kaum Muslimin kebanyakan masih menganggap Syiah adalah Islam. Tentunya hal ini berbahaya.

Baca entri selengkapnya »

Pembahasan mengenai Daulah Fatimiyah adalah pembahasan yang menarik, karena kontroversi yang ditimbulkan oleh daulah ini cukup menggegerkan dunia Islam. Ada yang mengatakan kerajaan ini memiliki sumbangsih besar mengenalkan umat Islam pada ilmu pengetahuan, karena merekalah yang membangun Universitas al-Azhar. Di sisi lain, kerajaan ini dikatakan sebagai kerajaan ekstrim yang intoleran, menindas muslim Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah kerajaan yang dipenuhi dengan penindasan, penipuan, dan penyimpangan dari ajaran Islam juga menjadi sisi lain yang perlu diangkat dan diketengahkan.

Akidah Syiah Ismailiyah

Sebelum membahas kekuatan politik Daulah Fatimiyah, terlebih dahulu kita membahas ideologi kerajaan ini, karena inilah yang melandasi gerakan politiknya. Daulah Fatimiyah adalah sebuah kerajaan yang berideologi Syiah, lebih tepatnya Syiah Ismailiyah. Syiah Ismailiyah adalah sekte Syiah yang meyakini bahwa Ismail bin Ja’far adalah imam ketujuh, adapun mayoritas Syiah (Syiah Itsna Asyariyah) meyakini bahwa Musah bin Ja’fa-lah imam ketujuh setelah Ja’far ash-Shadiq. Perbedaan dalam permasalahan pokok ini kemudian berkembang ke berbagai prinsip ajaran yang lain yang semakin membedakan ajaran Syiah Ismailiyah dengan Syiah arus utama, Syiah Itsna Asyriyah, sehingga ajaran ini menjadi sekte tersendiri.

Baca entri selengkapnya »

​PERPPU OFF SIDES

Posted: 14 Juli 2017 in Politik

By Djoko Edhi Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi III DPR dan Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU).

Tadinya musuh Pemerintah, Rezim Bani Kotak, adalah HTI dan FPI, atau Bani Islam. Setelah membaca Perppu Anti Pancasila, ehh, yang diberangus semua ormas dan hukum. NU pun ikut terancam pembubaran dan pidana, tergantung suasana hati Presiden Jokowi, Menkopolkam Wiranto, dan Mehukham Laolly dalam 7 hari proses, final. Kalau sedang bahagia, dikasih proyek, kalau sedang gusar dalam 7 hari dibubarkan. Awas yang tak manut.
Luar biasa syahwat otoriterianisme berkuasa. Sudah pesong: mengapa Presiden menerbitkan Perppu yang nyaris dipastikan tak lolos di DPR?
Saya tak yakin ada pihak yang mau mendukung kembalinya Super Orde Baru. Sebab, DPR segera memberangus diri sendiri. Bisa apa mereka hanya dengan ormas yang membebek? Dukung ya dukung, tapi mengizinkan negara masuk ke dalam rumah adalah kegilaan.
Perppu ini menghapus due process of law. Artinya mengganti negara hukum menjadi negara kekuasaan. Pembubaran dan pemidanaan ormas berikut dengan orang-orangnya, tanpa menggunakan hukum. Cukup dengan kekuasaan: bikin hukum dengan cara melanggar hukum. Dapat legitimasi hukum dari mana Paduka Mister Presiden melakukan itu? Sudah benar pernyataan Jenderal Wiranto ketika melaunching pembubaran HTI, harus lewat hukum peradilan. Pasti Laolly menambahkan tak perlu pakai hukum, plus saran rechts idee dari Prof Jimly agar Jokowi memakai Perppu. Hasilnya memberangus hukum tanpa kecuali. Semua kena. Ngawur berat!

Baca entri selengkapnya »